Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan

Selasa, 16 Maret 2021

Angkatan Penggerak : Pantaskah Kalian Lelah ?

Sumber: abulyatama.ac.id

    

Organisasi adalah sekumpulan individu yang tergabung dalam satu tujuan untuk digapai bersama. Organisasi juga yang telah membentuk pola pikir dan pandangan para anggotanya. Disini kalian juga dibentuk untuk saling menghargai sampai berjuang bersama. Sampai pada titik khusus adalah kalian akan merasakan apa itu fanatisme.

Dalam dunia kampus, Organisasi adalah tempat berproses untuk para mahasiswanya. Entah itu organisasi internal ataupun eksternal kampus. Setiap Ormawa (Organisasi Mahasiswa) pasti punya arah gerak masing masing dalam meraih tujuan. Dalam proses tersebut pasti ada yang namanya fluktuasi keaktifan kadernya.

Dalam posisi  semangat menurun, bukan berarti kalian harus memejamkan mata dan menoleh kebelakang. Tapi tegakkan badan  dan lihatlah kedepan.

Gelombang Para Tunas Baru

Setiap tahun pasti akan ada yang namanya anggota baru. Akan terus bertambah jika sistem kaderisasi anggota berjalan dengan baik. Kenyamanan menjadi kunci paling penting dalam sistem kaderisasi. Sehingga yang ditunjukan adalah semangat mereka dalam menjalani setiap proses di organisasi.

Disetiap acara, mereka akan datang dengan perasaan senang dan semangat. Melihatkan antusias yang tinggi. Seakan merekalah orang paling haus ilmu dan pengalaman di dunia ini.

Masa Kalian Belum Habis

Tapi masalah mulai muncul, ketika para senior yang lebih dulu menunjukan ke jenuhanya. Beranggapan bahwa masa mereka selesai. Masa yang akan datang adalah milik mereka para anggota baru.

Padahal disinilah posisi kalian sebagai kader yang sebenarnya. Mendidik para juniornya agar ilmu yang sudah terserap bisa di tularkan.

Juga Bekerja keras menjalankan kendaraan organisasi seperti tujuan awal.  Bukan berhenti hilang dan lupakan.

Disamping itu kesibukan mungkin salah satu alasan klasiknya. Padahal manajemen waktu dan prioritaslah yang diperlukan. Kalian pasti bisa berjalan dan menikmati setiap perjalanan dengan tenang.

Lihatlah mata setiap pemimpin kalian, betapa beratnya beban dan tanggung jawab yang ia pikul. Mereka rela untuk mengorbanka banyak hal, bahkan yang paling penting sekalipun. Kebahagiaan anggota lebih penting daripada diri mereka sendiri.

Jadi, jangan biarkan dia berdiri sendiri. Karena kerja sama tim adalah hal terpenting setiap organisasi.

Renungkan kembali niat kalian saat pertama  mengambil langkah bergabung di rumah yang dinamakan organisasi.Tegakkan badan kalian dan lihatlah kedepan. Kepalkan tangan  dan majulah kemuka. Berikanlah yang terbaik pada organisasi, maka suatu saat  pasti kalian akan menuai hasilnya.


 Artikel ini ditulis oleh: 

 Bunga Matahari. Kader Rayon Ki Hadjar Dewantara. lahir dan besar di Kudus. Seorang yang jenaka, tawa dari sahabatnya merupakan harta  yang berharga.

 

 

 

 

 



 

 

 

Senin, 08 Februari 2021

JEJAK SUNAN MURIA : AJARAN MERAWAT BUMI DAN KESENIAN JAWA

 



Raden Umar Said atau yang dikenal Sunan Muria merupakan salah satu Wali Songo yang berhasil menyebarkan agama Islam di daerah utara Jawa tepatnya di sekitar Gunung Muria.

Kisah perjuangan beliau membangun masyarakat yang religius di atas Gunung Muria bukanlah hal yang mudah. Berdakwah di  masyarakat dengan kepercayaan animisme merupakan tantangan tersendiri  untuk Sunan Muria.

Menyayangi bumi dan mempelajari agama menjadi dua materi yang masuk dalam pendekatan . Beliau menekankan bahwa kehidupan itu bukan serta merta menjaga hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga dengan lingkungannya.

Sunan Muria  berdakwah sambil mengajarkan keterampilan mengolah bumi untuk masyarakat Colo. Mereka diajari bagaiman beternak, berkebun, dan mengolah hasil bumi.

Peninggalan jejak Sunan Muria di bidang kesalehan dengan alam sekitar adalah tumbuhan hasil olahannya bersama dengan masyarakat Colo atau Lereng Gunung Muria yang berupa pohon Kayu Adem Ati, hutan Jati Keramat, Kayu Pakis Haji, Buah Pari Joto, dan Ngebul Bulusan.

Masyarakat Colo percaya bahwa tanaman-tanaman tersebut penuh keberkahan sebagai peninggalan Sunan Muria. Salah satunya adalah buah Pari Joto yang berkhasiat untuk kebaikan janin bagi orang hamil.

Membaur dengan Kesenian Jawa

Beliau memiliki keahlian memainkan gamelan dan wayang. Kemahirannya dalam bidang seni ini pula yang membuat Sunan Muria mampu melahirkan tembang berjudul Sinom dan Kinanti.

Melalui lagu-lagu itulah Sunan Muria menyelipkan nilai-nilai Islam sehingga dapat membaur dengan masyarakat. Sehingga ajaran islam berangsur di terima dan menyebar di sekitar Gunung Muria.

Dari jejak Sunan Muria tersebut maka masyarakat dituntut untuk terus melestarikan lingkungan sekitar agar tidak terjadi hal-hal yang merugikan manusia itu sendiri. Serta tak lupa mencintai budaya bangsa sendiri.

Jangan sampai kita terjajah oleh budaya luar. Wujud kepribadian seorang muslim dan muslimah  seperti itulah yang ingin dibentuk oleh Sunan Muria dalam dakwahnya.

Artikel ditulis oleh:

Saka. Kader Rayon Ki Hadjar Dewantara. lahir dan besar di lereng muria. Seorang yang jenaka, tawa dari sahabatnya merupakan harta  yang berharga.

 

 

 

 

 

Minggu, 07 Februari 2021

MENJADI SAMA DI ATAS PERBEDAAN

 



Bukankah memiliki lebih dari satu komitmen untuk menyikapi beberapa hal yang berbeda dapat menambah kecakapan seseorang? Terkadang seseorang memilih untuk tidak berkomitmen pada dua hal yang berbeda. Kejadian ini disebabkan seseorang takut tidak diterima, hanya karena dia memiliki komitmen bertolak belakang.

Komitmen bukan hanya tentang tanggung jawab dan apa saja kewajiban yang harus ia kerjakan. Namun juga apa yang bisa dipelajari dari setiap komitmen yang ia pegang.

Harusnya orang Indonesia tidak bisa memungkiri bahwa ia hidup di negara yang kaya akan keberagaman. Namun kebanyakan orang Indonesia menyalah artikan keberagaman itu sebagai sebuah persaingan. Artinya kelompok lain tidak boleh lebih baik dari kelompoknya. 

Sebuah persaingan bisa berdampak positif, seluruh orang dapat berlomba-lomba menunjukkan hal terbaik yang ada pada dirinya. Namun akhir-akhir ini perlombaan itu menjadi sarang keegoisan yang cenderung mengakibatkan persaingan tidak sehat hanya karena politik dan kekuasaan. Akibatnya mereka lupa bagaimana cara menghargai kelompok lain. 

Isu-isu perpecahan yang makin marak di Indonesia ternyata juga terjadi di dunia perkuliahan yang notabene dipenuhi oleh kaum intelektual. Nepotisme ternyata masih menjadi budaya yang belum bisa hilang bahkan setelah muncul kebudayaan baru bernama kolaborasi.

Perang politik untuk merebutkan kekuasaan seolah menjadi hal wajib yang ada pada kehidupan organisasi di dunia perkuliahan. Mereka saling menyalahkan satu sama lain bahkan cenderung menjelek-jelekkan lawannya agar terlihat paling sempurna didepan umum. Mana makna intelektual yang lekat ada pada diri mahasiswa?

Masihkah ada Pancasila diantara kita? Pancasila mana yang katanya sebagai pandangan hidup bangsa? Apakah kita lupa dengan nilai-nilai yang kita terima saat berada pada bangku pembelajaran? Atau mungkin kita perlu duduk di bangku itu lagi untuk mengingat nilai-nilai yang sudah lama terkubur oleh keserakahan dan keegoisan diri yang semakin menjadi-jadi?

Sungguh, harusnya kita malu dengan anak-anak yang ada di bangku Sekolah Dasar. Karena setiap pagi mereka masih melafalkan Pancasila dan menempatkan Pancasila pada sanubarinya. 

Sesungguhnya kita memiliki tujuan yang sama. Dan harusnya kita tidak perlu memperebutkan siapa yang paling memiliki sumbangsih dalam memajukan Indonesia pada umumnya serta Organisasi perkuliahan pada khususnya.

Kita ini sama, sama-sama memiliki sumbangsih demi memajukan Indonesia. Jadi untuk apa saling menunjukkan dirinya yang terbaik jika kita bisa berjalan selaras, saling menghormati, serta bersama-sama mencapai cita-cita yang sama.

Akan lebih mudah jika mencapai tujuan tertentu dengan bergerak bersama tanpa memiliki pandangan “Mereka lebih buruk”. Hai… bagaimana kita bisa mengetahui kita lebih baik dari yang  lain jika untuk mendekatkan diri, saling bertukar pikiran, dan saling mengenal saja tidak pernah kita lakukan? 

Hingga semua itu selalu menempatkan manusia pada dua pilihan yang berbeda. Mengapa seseorang selalu dihadapkan pada dua pilihan? Lalu bagaimana jika seseorang itu bisa menjalankan kedua pilihan itu secara bersamaan? Apakah dia berdosa? Tidak, justru dia orang yang mudah berkembang karena dia bisa menjalankan dua pilihan pada dua komitmen yang berbeda dalam waktu yang bersamaan. 

Perbedaan itu baik jika ada toleransi di antara dua hal yang berbeda. Namun dewasa ini, seseorang bisa dengan mudah mengkafirkan orang lain hanya karena mereka berbeda. Seseorang mudah sekali menganggap orang lain berdosa karena tidak sepaham dengannya. Lucu sekali, kini tugas Tuhan seolah sudah berada ditangan ciptaan-Nya.(*)


Artikel Ditulis oleh: 

Dean, seseorang yang penuh tanya, penuh ambisi, serta suka bercerita tentang semua hal yang meresahkan di dunia. Aktif pada siang hari namun lebih aktif lagi pada malam hari.

 

Selasa, 02 Februari 2021

PERGERAKAN MANUSIA TIDAK STAGNAN




Dalam sebuah hidup manusia, pasti tidak stagnan. Kreativitas dan inovasi sangat dibutuhkan. Hal itu akan menunjang perkembangan diri manusia itu sendiri. 

Jangan terlalu mengikuti alur kehidupan. Terjang apa yang seharusnya menjadi kehendak diri demi kebaikan. Yang dibutuhkan manusia adalah menjadi kreatif dan inovatif, demi menjebol dinding kebosanan.

Fungsi kreativitas dalam proses inovasi merupakan pembangkitan ide. Hal tersebut akan menghasilkan penyempurnaan, efektivitas, dan efisiensi pada suatu sistem.

Ada dua aspek penting pada kreativitas, yaitu proses dan manusia. Proses yang berorientasi tujuan, yang didesain untuk mencapai solusi suatu permasalahan. 

Sedangkan manusia merupakan sumber daya yang menentukan solusi. Proses tetap sama, namun pendekatan yang digunakan dapat bervariasi. Antara wirausahawan yang satu dan yang lainnya pastilah melakukan cara atau strategi yang berbeda-beda dalam membangun bisnisnya. 

Cara atau strategi inilah yang menentukan hasil akhir yang akan dicapai. Semakin kreatif orang tersebut menggunakan peluang yang ada, maka semakin baik pula hasil dari bisnis yang mereka jalankan.

Hambatan-hambatan tersebut hendaknya diminimalisir atau justru dihilangkan. Pasalnya, dalam berwirausaha kreativitas sangatlah dibutuhkan dan jangan sampai hambatan menjadi permasalahan yang membuat ide kreatif kita tidak berkembang. 

Sehingga dapat disimpulkan bahwa kreativitas wirausaha merupakan kemampuan seseorang untuk menuangkan ide dan gagasan melalui berpikir kreatif. Mampu menciptakan sesuatu yang menuntut pemusatan, perhatian, kemauan, kerja keras, dan ketekunan.

Selain kreatif, hal lain yang diperlukan dalam berwirausaha adalah inovatif.  Dengan inovasi, wirausahawan dalam menciptakan sesuatu baik sumber daya produksi baru maupun pengelolaan sumber daya yang ada dengan peningkatan nilai potensi. Potensi yang difokuskan adalah menciptakan sesuatu yang tidak ada menjadi ada.

Cara mengembangkan inovasi dapat dilakukan dengan berbagai cara. Pertama, wirausahawan tersebut harus mengenali hubungan. Banyak penemuan dan inovasi lahir sebagai cara pandang terhadap suatu hubungan baru dan berbeda antara objek, proses, bahan, teknologi dan orang. 

Untuk membantu memunculkan kreativitas, kita dapat melihat cara pandang kita terhadap hubungan kita dengan lingkungan alam sekitar. Orang yang kreatif akan memiliki hubungan intuisi tertentu untuk dapat mengembangkan dan mengenali hubungan yang baru. 

Selain itu untuk dapat melakukan kreativitas agar dapat berimajinasi yang inovatif, gunakanlah otak bagian kanan, sedangkan otak bagian kiri digunakan untuk bekerja. 

Proses kreativitas yang inovatif meliputi pemikiran logis dan analitis terhadap pengetahuan, evaluasi dan tahap implementasi. Jadi bila kita ingin lebih kreatif, kita harus melatih dan mengembangkan kemampuan kedua otak kita tersebut. 

Terakhir, untuk menjadi seorang yang kreatif dan inovatif dalam berwirausaha, maka kita harus selalu berfikir positif. Tujuannya agar dapat menjadi orang yang sukses.

 

Artikel ditulis oleh:

Roy. Mahasiswa manajemen kelahiran Pati, Mei 2000. Senang membuat tulisan yang mengandung unsur seseorang harus punya kreativitas dan inovatif dalam hidup, tidak hanya stagnan mengikuti alur kehidupan.


Rabu, 27 Januari 2021

MENJADI MAHASISWA YANG MEMBOSANKAN

 

Sumber: www.tangerangnet.com/2019/09/pc-pmii-lebak-punya-agenda-tersendiri.html

Hay… assalamualaikum, pernah nggak kalian berfikir buat apa kita di sekolahin? Tidak ada orang baik selain orang tua kita. Hanya mereka yang tau kebutuhan kita. Merekalah yang paham masa depan kita, iya, masa depan yang dari awal sudah direncanakan dan diagung-agungkan.


Orang tua menaruh harapan besar pada kita. Mereka berharap agar kita menjadi orang yang lebih baik dari mereka.  Apapun kondisin mereka, percayalah meraka akan berusaha demi memperjuangkan pendidikan kita. Tanpa kita sadari, itu adalah warisan yang berharga.

Banyak pemuda ingin menempuh pendidikan setinggi-tingginya. Beruntunglah kalian yang mampu menikmati bangku kuliah. Karena hal tersebut mampu merubah pola fikir dan kehidupan kita, baik di dalam kampus maupun di masyarakat.

Di dalam kampus, mahasiswa yang miskin pura pura kaya karena situasi pergaulan. Sedangkan di masayarakat, mereka dianggap orang yang sempurna dalam pendidikan. Mahasiswa dianggap serba tau, pemuda istimewa di lingkungannya.

Kita tau kuliah tidak hanya tentang nilai dan IPK belaka. Tujuan kuliah juga untuk meningkatkan wawasan, pemahaman, dan skill. Kuliah bagaikan membeli situasi, situasi yang mendorong kita untuk melakukan hal tersebut.

Orang-orang menganggap mahasiswa terbagi menjadi beberapa tipe. Mereka adalah mahasiswa organisatoris, akademis, dan aktivis. Semuanya sama saja, sama-sama menyedihkan. Karena seberapa mentereng prestasi, pengalaman organisasi, atau aktivitas advokasi yang ada di CV yang kamu buat, pada akhirnya kamu akan tetap menjual diri di pasar kerja. 

Etsss, jangan gagal faham dulu. Ada hal menarik yang perlu kita bahas, mengingat status kita sebagai mahasiswa. Kalau boleh tau, apakah di kampus kalian menghabiskan waktu sebagai mahasiswa akademisi yang fokus dengan kuliah? Atau sebagai formalitas semata, kuliah, pulang, dan pacaran? Atau mahasiswa organisator, mungkin juga sebagai mahasiswa aktifis?

Entah kenapa sampai sekarang saya masih gagal paham kenapa banyak sekali orang memperdebatkan pertanyaan konyol tersebut. Maksud saya, kenapa sih orang-orang suka sekali membanding-bandingkan, dan merasa label yang satu lebih bagus dari yang lainnya?

Mahasiswa yang pro akademik biasanya akan menjadi Aslab (asisten laboratorium) dan  Asdos (Asisten dosen). Mereka lebih senang mengglorifikasi pentingnya mengoleksi nilai A semasa kuliah. Bagi mereka, yang bilang IPK nggak penting itu terlalu malas, jika tidak mau dibilang bego.

Lagian, nilai bagus adalah bukti kalau kita serius dan bertanggung jawab dengan kewajiban menuntut ilmu. Mereka lalu melancarkan pukulan seperti petinju dengan mengatakan “Organisasi buat apa, hah??? Toh kalau IPKmu kecil, boro-boro skillmu dicari di dunia kerja, melamar pekerjaan dengan syarat IPK minimal 3 aja nggak akan bisa!” Mamam noh organisasi.

Mahasiswa organisatoris so called pejabat kampus, mereka senang sekali mengagung-agungkan skill kepemimpinan, komunikasi, dan sosial. Menurut mereka (biasanya sambil mengutip artikel tentang 20 skill yang dibutuhkan perusahaan di dunia kerja) jauh lebih penting dari sekadar mengejar nilai semata.

Kuliah memang nggak hanya nilai T di akedemisi, nggak hanya diajari tentang teori dan pratikum mata kuliah. Sebagai oraganisator, kita dididik untuk menjamin diri sendiri setelah menjadi mahasiswa. Tentang pengalaman, leadership, track record relasi didapatan selama jadi mahasiswa organisator. Meskipun pada kenyataannya hal tersebut banyak sekali menyita pikiran, tenaga, waktu, dan bahkan uang.

Di sebrang jalan, mahasiswa aktivis biasanya mengacungkan jari tengah kepada keduanya. Lalu bilang kalau mahasiswa organisatoris dan akademis ini hanya sekelompok orang egois. Mahasiswa yang lupa akan tugas mereka.

Halo Bung dan Nona, Mahasiswa itu harusnya memikirkan rakyat! Ngapain jadi pejabat kampus? Apa itu pejabat kampus? Humasnya rektorat? Bung dan Nona mengaku seorang akademisi, tapi hanya mencari ilmu untuk dirinya sendiri? Apakah anda merasa terlalu tinggi untuk berguling di lumpur bersama rakyat? “Eh mau ngapain juga guling-guling di lumpur,” egois kalian semua itu!

Ilmu yang diperoleh selama belajar di universitas harusnya disebarkan kepada masyarakat kecil yang tidak sempat mengecap pendidikan. Bukannya malah dipakai memperkaya diri sendiri dengan memilih hidup nyaman dan kerja di korporasi. 

“Sekali-kali keluar dong ke jalan! Ilmu nggak cuman bisa di dapatkan di kelas!” Ungkapan yang biasanya dilontarkan mahasiswa aktivis keitka demo. Sementara itu, mahasiswa yang selama kuliahnya cuma kuliah, pulang, ngewibu, dan ketiduran, menonton keributan mereka sambil makan pop corn.

Kenapa saya bilang membanding-bandingkan, dan mencari kegiatan mana yang lebih baik dilakukan di kampus itu konyol. Ya, karena sebenarnya saya tahu kalau mereka itu aslinya sama-sama aja. Sama-sama menghabiskan waktu kuliah dengan cara menyedihkan. 

Begini, saya bisa jelaskan. Mahasiswa organisatoris atau pejabat kampus menghabiskan waktu kuliah mereka dengan menggarap berbagai program kerja. Mulai dari acara pengembangan semacam diskusi, workshop, dan seminar, sampai acara  senang-senang.
Dalam setahun, kegiatan yang mereka lakukan bisa banyak sekali lho (Supaya bisa minta banyak uang ke rektorat yang pelit, tentu saja). Selama masa kerja itu, mereka harus mau rapat kepanitiaan sampai malam, begadang membuat TOR dan rundown, membuat desain gratisan, hingga wara-wiri ke sana kemari mencari sponsorship.

Lah… ini kan namanya kerja gratisan. Lebih parah dari perburuhan, karena nggak pernah dapat upah. Terus kenapa dong kalian begitu bangga dengan perbudakan modern semacam ini. Eitsss, Yang akademisi jangan ketawa dulu.

Menjadi seorang Aslab/Asdos/Asprak/Aspirin atau apa pun lah itu namanya mungkin terdengar keren. Kamu juga akan banyak dicemburui teman-temanmu karena menjalin hubungan yang sangat dekat dengan dosen sampai-sampai disebut “Anak kesayangan dosen”.

Tapi, kamu tahu sendiri bahwa kamu sebenarnya juga jadi korban perbudakan di jurusan atau prodi. Dan yang lebih mengerikan, kamu bahkan nggak bisa bilang “Tidak” saat diberikan tugas, karena sangat sungkan.

Kenapa sih harus memperlakukan dosen seperti itu? Apa yang ingin kalian tunjukan sampai-sampai mau-maunya melakukan pekerjaan-pekerjaan yang harusnya bisa dilakukan dosen itu sendiri? Kalian sadar nggak kalau kalian tuh dimanfaatkan?
Dosen-dosen nggak melihat kamu secara setara. Mereka lebih berpikir kalau waktu mereka lebih penting, sementara kamu nggak. Makanya pekerjaan mereka kamu yang melakukan, jadi mereka bisa gosip haha hihi ketika jelas-jelas sebenarnya kamu juga punya banyak tugas lain sebagai mahasiswa. Lalu, diperlakukan seperti itu kamu masih bangga?

Terakhir,  mahasiswa aktivis yang mengaku paling peduli dengan rakyat dan kaum yang tertinggal , padahal dirinya sendiri meninggalkan terlalu banyak urusan kampus sampai kuliahnya kedodoran.

Abai pada kampus itu bertentangan dengan amanat rakyat lho. Yang membayar kuliahmu sekian persennya subsidi dari rakyat kan? Kalau kamu terlalu lama di kampus, artinya uang UKTmu yang mahal itu, yang sebagian dari keringat rakyat yang bercucuran itu, dibiarkan menguap begitu saja.

Memang tidak salah jika tidak lulus cepat dan lebih banyak menghabiskan waktu sebat di jalan tidak merugikan orang lain. Tapi, omong kosong jadinya dengan perjuangan yang kamu koar-koarkan, ketika kamu sendiri masih terbelenggu dengan beban kuliah sekian SKS dan skripsi yang tidak pernah kamu jamah lagi.

Kita sebenarnya boleh saja jadi organisatoris, akademis, aktivis, atau jadi tiga-tiganya sekalian. Tapi merasa lebih superior dan mendiskreditkan mahasiswa lain hanya karena memilih jalan yang berbeda adalah hal yang sangat konyol. Apa pun yang kamu lakukan untuk menghabiskan waktu saat menjadi mahasiswa, pada akhirnya kamu akan tetap menjual diri di pasar kerja.

Jika tujuannya hanya pamer, ingin menunjukan kalau “Aku menghabiskan waktu kuliahku dengan lebih berfaedah dari kamu,”seberapa mentereng prestasi, pengalaman organisasi, atau aktivitas advokasi yang ada di CV mu, sama saja tidak ada gunanya.
Itu kan yang ada di kepalamu? Ingatlah, jika kamu benar-benar kuliah untuk tujuan sebenar-benarnya pendidikan, kamu nggak akan sibuk dengan nyinyir apa yang dilakukan oleh mahasiswa lain.

Jika kamu benar-benar belajar saat menjadi mahasiswa, kamu akan lebih banyak berpikir, membaca, berdiskusi, melakukan gerakan-gerakan emansipasi, dan lebih peduli pada pemberdayaan masyarakat di akar rumput. Bukan malah sibuk memikirkan persaingan siapa yang lebih baik di antara mahasiswa satu dan yang lainnya untuk bisa diterima di dunia kerja.(*)
 

Artikel ditulis oleh:
Mohamad Rifa’i Abidin

Rabu, 20 Januari 2021

KOMPROMI KEDUA SISI

 

Ilustrasi Foto: Google
Sumber: https://id.pinterest.com/pin/846465692447010684/

Sekarang ini, kalau aku ditanya apa yang paling berharga dalam hidupku, dengan tidak ragu-ragu aku akan menjawab pengalaman. Tentu saja yang dimaksud pengalaman bukan hanya perihal liburan ke tempat yang lagi hits (Lagi trend atau banyak diketahui masyarakat umum) bersama teman-teman, dapat hadiah dari sang pacar, memenangkan undian give away, atau hal menyenangkan lainnya.

 

Hidup akan terus menerus berjalan. Di manapun, kapanpun, dan bagaimanapun memang memerlukan dua sisi yang saling berimbang. Dua sisi yang akhirnya saling mengisi untuk menguatkan hati.  Kalau kau tak ingin kecewa akan hidupmu sendiri atau kau menganggap bahwa dalam hidup butuh kebahagiaan, maka genggamlah apa yang kamu punya sekarang, jangan bandingkan dirimu dengan yang lain karena kamu benar-benar sempurna dengan dirimu yang apa adanya, dan tetaplah memandang semua hal dari dua sisi yang berbeda.

Jika kamu masih memandang seseorang yang lulus kuliahnya lama disebabkan suatu kemalasan, kebodohan, atau tidak punya prinsip, fiks kamu masih dungu memaknai perjalan hidup orang tersbut. Itulah alasan mengapa hatimu masih saja mengutuk pengalaman kelam pribadi yang telah kau buat sendiri.  Padahal, setiap orang memiliki tujuan hidupnya masing-masing. Tentu antara satu dengan yang lain berbeda.

Pernahkah kamu berfikir darimana sebuah makna ketenangan? Bukankah makna ketenangan dapat ditemukan melalui kepanikan? Makna kerinduan dapat ditemukan melalui kehilangan. Makna kedamaian dapat ditemukan melalui kemarahan. Makna kasih sayang dapat ditemukan melalui kebencian, dan makna penyesalan dapat ditemukan setelah keegoisan.

Lalu, apa lagi yang perlu disesalkan dengan adanya pengalaman yang kelam? Ya, begitulah manusia. Terkadang sering lupa bahwa menuju pendewasaan harus siap melalui proses di luar dugaan.

Kita lebih sering berfikir seandainya daripada kelanjutannya. Seandainya aku begini mungkin sekarang aku akan begitu. Jika seandainya aku tidak begitu, mungkin akhirnya tidak akan begini. Jika seandainya aku, jika seandainya, jika, dan  jika. Hingga akhirnya andai-andai itu membuat manusia lupa bahwa alur hidup dan pengalaman adalah guru yang paling berharga sebagai sarana memperbaiki diri. 

Tidak ada pengalaman menyedihkan yang sia-sia. Tidak ada penyesalan yang tidak berguna. Tidak ada kekecewaan yang tidak bermakna. Semua memang sudah berjalan sesuai alur-Nya. Ya, Tuhan memang selucu ini untuk memberi kejutan. Dimulai dari ketidaknyamanan, kegelisahan, kepanikan, dan kesedihan, perlahan sinar kebahagiaan akan menyambut hati dengan pasti. So, sambutlah sinar kebahagiaan itu dengan terus bergerak melakukan pergerakan hingga akhirnya mampu menggerakkan hati untuk menumbuhkan kualitas diri.(*)

 

Artikel ditulis oleh:

Intan Lutviana Wulandari, seorang perempuan asal Kota Jati kelahiran 30 Agustus 2001. Baginya hidup itu proses penyembuhan dan organisasi adalah sarana pemulihan.


Kamis, 14 Januari 2021

ORGANISASI, DEDIKASI ATAU PANSOS?


Ilustrasi Foto: Radiosuarakudus.com


Sebuah organisasi dikatakan prestisius jika mampu menghasilkan kader yang berkualitas, tanpa terkecuali di tingkat mahasiswa. Pada saat ini banyak di antara ormawa membabi buta dalam mengkader mahasiswa anggotanya. 

Kita bisa melihat di BEM, DPM, sampai UKM. Mereka  gencar menyusun strategi dan trik yang jitu untuk melakukan pengkaderan. Seakan berlomba membuktikan diri jadi ormawa utama di kampus. 

Padahal tanpa disadari, tujuan dari ormawa adalah membuka pandangan mahasiswa agar memiliki pikiran terbuka. Tidak lagi mementingkan diri sendiri. Tidak lupa sebagai tempat berproses dan bukan tempat untuk menaruh nama. 

Banyak mahasiswa sekarang ingin terkenal. Bagaimanapun caranya mereka ingin selalu muncul di permukaan. Tidak usah jauh-jauh, fenomena ini bisa dilihat di kampus kita tercinta. 

Banyak mahasiswa yang mengesampingkan kinerja hanya untuk update story. Bukan lagi karena mementingkan prestasi, tapi lebih merujuk pada aji mumpung di organisasi. Banyak dikenal orang juga banyak teman untuk ngopi.

Inikah tujuan berorganisasi? Pansos di mana- mana? Sok berkuasa di sekitar mahasiswa biasa? Bicara tinggi untuk menunjukkan bahwa dia layak jadi bagian akademisi? Padahal yang dihadapannya adalah kaum awam yang hanya gabung karena ingin ngopi. 

Dinasti Teman Ngopi

Bagaimanapun juga teman adalah teman. Tidak peduli dia berasal dari mana, kemampuanya seperti apa, dan latar belakangnya bagaimana. Hubungan pertemanan itu bernilai karena jasa mereka dalam mencapai tujuan bersama.

Dalam sebuah organisasi, nepotisme sudah menjadi rahasia umum. Karena hal kedekatan rasa, dimasukkanlah mereka. Malam hari saat waktu ngopi mereka berunding untuk siapa saja yang akan masuk dalam anggota. 

Tanpa melibatkan pengurus yang lama, justru  wajah baru yang sering kumpul untuk ngopi bersama adalah yang dipilih menjadi anggota. 

Sebuah kebodohan dan egoisme yang fatal. Mementingkan kepentingan kelompok demi membabi buta kelompok yang lain. Pemimpin bukanlah budak daripada anggota. Tapi dia adalah penyambung lidah para anggotanya.(*)


Artikel ditulis oleh:

Dull Ndon, seorang yang sedang bingung, pesimis, dan juga ragu, tapi pantang baginya untuk mundur ketika berhadapan dengan tantangan. Merupakan kader PMII Rayon Ki Hadjar Dewantara.





Rabu, 13 Januari 2021

WAJAH BARU ATAU WAJAH BURAM PENDIDIKAN NEGERI INI?

 


Foto: Istimewa

Akhir tahun 2019 kita diberikan harapan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang baru, Nadiem Makarim. Sebuah gagasan yang menurut saya akan menjadi awal dari majunya pendidikan di Negara kita. Konsep merdeka belajar yang di gagas oleh Mas Menteri (sapaan akrab Nadiem) sebagai harapan baru dalam dunia pendidikan kita.

Di dalam dunia perkuliahan, Mas Menteri juga memberikan gebrakan baru dengan gagasanya yang di rangkum  dalam kampus merdeka. Mungkin banyak perspektif dalam mengartikan arti merdeka ini. Beragam opini turut muncul dan berkembang di dalam dunia perkuliahan sendiri.

Akan tetapi ada satu hal yang tidak bisa dipungkiri. Sistem pendidikan di kampus yang diterapkan di negeri ini merupakan sistem pendidikan doktrinasi. Mahasiswa diberikan pemahaman untuk diterima seutuhnya, bukan untuk dikaji dan mencari kebenaran akan hal itu.

Dengan sistem pendidikan seperti itu, maka tidak bisa di pungkiri bahwa pemikiran-pemikiran kritis yang harusnya dimiliki oleh mahasiswa kini secara perlahan diberi racun yang mematikan. Tujuannya tidak lain agar pemikiran-pemikiran kritis mahasiswa mati secara perlahan.

Mungkin banyak teman-teman mahasiswa yang kurang menyadari problematika tersebut. Seharusnya di dalam dunia perkulihan, antara dosen dan mahasiswa layaknya teman yang saling melempar gagasan guna menambah wawasan, utamanya dari mahasiswa itu sendiri. Akan tetapi selama saya berkuliah saya merasa kembali ke bangku sekolah, dimana kita seakan dipaksa menjadi pendengar yang baik dalam perkuliahan.

Selain itu, ruang-ruang proses perkuliahan yang seharusnya kita bisa explore guna menujang pemikiran-pemikiran kritis, kini seakan dikubur sedikit demi sedikit. Pemuda bergelar mahasiswa dulunya dianggap orang yang mempunyai intelektual tinggi , daya nalar krititis yang luar biasa, dan gerakan secara massif. Namun kiranya kurang pantas jika gelar tersebut masih diberikan kepada pemuda generasi sekarang.

Maka dari itu, jangan salahkan jika mahasiswa yang dulunya dikenal dengan julukan agent of change, agent of control maupun iron stock, kini hilang semua tanpa membekas. Hal tersebut berkaitan dengan sistem dari hulu sampai hilir yang tidak pernah berpihak kepada nalar kritis mahasiswa. Ditambah pula dengan karakter mahasiswa di era sekarang yang kuliah hanya untuk mendapatkan gelar kehormatan. Sama seperti orang-orang yang dianggap penting di ngeri ini, mereka beranggapan dengan gelar yang mereka peroleh bisa menunjang kehidupanya di kemudian waktu.

Jangan salah jika marwah mahasiswa di era sekarang dipertanyakan. Apakah marwah sebagai mahasiswa yang dulu di agungkan kini masih ada? Mahasiswa yang duluya berdiskusi dan baca buku merupakan kebutuhan wajib, kini sudah disibukkan dengan berbagai sosial media yang dituntut selalu eksis di dalamnya.

Jika banyak pepatah yang bilang kemajuan bangsa ini ditentukan para pemuda, maka kehancuran bangsa ini juga ditentukan para pemudanya.(*)


Artikel ditulis oleh:

Sholikin Muhammad, kader PMII Komisariat Sunan Muria. Di tengah hobinya yang tidak menentu, memilih menyibukkan diri dengan ngopi. Menjunjung motto hidup "Budayakan membahas apapun itu, walaupun hanya dalam pemikiran".