Rabu, 13 Januari 2021

WAJAH BARU ATAU WAJAH BURAM PENDIDIKAN NEGERI INI?

 


Foto: Istimewa

Akhir tahun 2019 kita diberikan harapan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang baru, Nadiem Makarim. Sebuah gagasan yang menurut saya akan menjadi awal dari majunya pendidikan di Negara kita. Konsep merdeka belajar yang di gagas oleh Mas Menteri (sapaan akrab Nadiem) sebagai harapan baru dalam dunia pendidikan kita.

Di dalam dunia perkuliahan, Mas Menteri juga memberikan gebrakan baru dengan gagasanya yang di rangkum  dalam kampus merdeka. Mungkin banyak perspektif dalam mengartikan arti merdeka ini. Beragam opini turut muncul dan berkembang di dalam dunia perkuliahan sendiri.

Akan tetapi ada satu hal yang tidak bisa dipungkiri. Sistem pendidikan di kampus yang diterapkan di negeri ini merupakan sistem pendidikan doktrinasi. Mahasiswa diberikan pemahaman untuk diterima seutuhnya, bukan untuk dikaji dan mencari kebenaran akan hal itu.

Dengan sistem pendidikan seperti itu, maka tidak bisa di pungkiri bahwa pemikiran-pemikiran kritis yang harusnya dimiliki oleh mahasiswa kini secara perlahan diberi racun yang mematikan. Tujuannya tidak lain agar pemikiran-pemikiran kritis mahasiswa mati secara perlahan.

Mungkin banyak teman-teman mahasiswa yang kurang menyadari problematika tersebut. Seharusnya di dalam dunia perkulihan, antara dosen dan mahasiswa layaknya teman yang saling melempar gagasan guna menambah wawasan, utamanya dari mahasiswa itu sendiri. Akan tetapi selama saya berkuliah saya merasa kembali ke bangku sekolah, dimana kita seakan dipaksa menjadi pendengar yang baik dalam perkuliahan.

Selain itu, ruang-ruang proses perkuliahan yang seharusnya kita bisa explore guna menujang pemikiran-pemikiran kritis, kini seakan dikubur sedikit demi sedikit. Pemuda bergelar mahasiswa dulunya dianggap orang yang mempunyai intelektual tinggi , daya nalar krititis yang luar biasa, dan gerakan secara massif. Namun kiranya kurang pantas jika gelar tersebut masih diberikan kepada pemuda generasi sekarang.

Maka dari itu, jangan salahkan jika mahasiswa yang dulunya dikenal dengan julukan agent of change, agent of control maupun iron stock, kini hilang semua tanpa membekas. Hal tersebut berkaitan dengan sistem dari hulu sampai hilir yang tidak pernah berpihak kepada nalar kritis mahasiswa. Ditambah pula dengan karakter mahasiswa di era sekarang yang kuliah hanya untuk mendapatkan gelar kehormatan. Sama seperti orang-orang yang dianggap penting di ngeri ini, mereka beranggapan dengan gelar yang mereka peroleh bisa menunjang kehidupanya di kemudian waktu.

Jangan salah jika marwah mahasiswa di era sekarang dipertanyakan. Apakah marwah sebagai mahasiswa yang dulu di agungkan kini masih ada? Mahasiswa yang duluya berdiskusi dan baca buku merupakan kebutuhan wajib, kini sudah disibukkan dengan berbagai sosial media yang dituntut selalu eksis di dalamnya.

Jika banyak pepatah yang bilang kemajuan bangsa ini ditentukan para pemuda, maka kehancuran bangsa ini juga ditentukan para pemudanya.(*)


Artikel ditulis oleh:

Sholikin Muhammad, kader PMII Komisariat Sunan Muria. Di tengah hobinya yang tidak menentu, memilih menyibukkan diri dengan ngopi. Menjunjung motto hidup "Budayakan membahas apapun itu, walaupun hanya dalam pemikiran". 

 

 

 

Rabu, 22 Juli 2020

Lakukan Survei BIRKOM RAYTEK Jaring Aspirasi Kader PMII

Biro Kominfo (BIRKOM) Rayon Teknik (RAYTEK) Komisariat Sunan Muria (KOMSUMU) lakukan survei, bertujuan menjaring aspirasi kader PMII di wilayah KOMSUMU.
Survei yang dilakukan Manarul Hidayat kordinator Biro Kominfo melalui Google Formulir, mencakup dua kriteria, aspirasi dan harapan. ini merupakan tindak lanjut ditundanya Musyawarah Pimpinan Cabang (MUSPIMCAB) yang dilaksanakan Pengurus Cabang (PC PMII) Kudus, (Rifal/Lentera)


CEK HASIL SURVEI 

Senin, 20 Juli 2020

MUSPIMCAB PC PMII Kudus Ditunda

Foto: Peserta sidang dari Komisariat Sunan Muria Mengajukan Pendapat/M. Faizi

Musyawarah Pimpinan Cabang (Muspimcab) yang dilaksanakan Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) Kudus memanas. Aksi walk out pun tak terhindar. Acara yang dijadwalkan selama dua hari, Sabtu dan Minggu (18-19/7) di Aula PCNU Kudus tersebut akhirnya ditunda.


Peserta dalam sesi sidang meminta kepada forum agar dalam kegiatan tersebut menghasilkan beberapa produk hukum yang akan menjadi acuan dalam pelaksanan program kerja organisasi PMII Kudus. Akan tetapi pimpinan sidang tidak mengabulkan permintaan dari sebagian besar peserta sidang.



"Hasil yang harus dicapai Muspimcab sesuai Pedoman Organisasi itu seperti apa?" tanya Haris selaku Ketua Komisariat Sunan Muria.



Alih-alih memberikan jawaban, pimpinan sidang justru membatasi pendapat-pendapat yang disampaikan peserta. Pimpinan sidang tidak memperbolehkan adanya sanggahan dari peserta sidang.



"Jika ada yang tidak terima silahkan keluar," seru Mujahidin selaku pimpinan sidang, dengan nada tinggi.



Sesi sidang yang sebelumnya telah terjadi adu argumen yang sengit, baik dari Komisariat Sunan Muria dan Komisariat Sunan Kudus semakin tidak kondusif. Beberapa peserta akhirnya memutuskan untuk meninggalkan forum karena kecewa atas ucapan pimpinan sidang yang seolah mengusir peserta sidang saat musyawarah berlangsung.



Sebenarnya pimpinan sidang khawatir, karena kegiatan terkendala penerapan jam malam. Ia menginginkan sidang selesai tepat sesuai jam yang di tentukan oleh gugus tugas percepatan penanganan Covid-19 yakni berakhir jam 21.00 WIB. Tetapi karena terbawa situasi yang sudah tidak kondusif, keluarlah keputusan yang tidak dapat diterima oleh sebagian besar peserta sidang.



"Rencana pelaksanaan kemungkinan dilaksanakan pada hari Sabtu, itu juga menunggu perizinan dari satgas percepatan penanganan Covid-19," ungkap Gatot selaku panitia acara.



Lanjutan Muspimcab PC PMII Kudus diagendakan kembali pada 25 Juli, dengan harapan adanya keputusan sidang yang dapat menjadi wadah serta landasan bagi seluruh kader di bawah naungan PC PMII Kudus. (Rifal/Lentera)

Jumat, 10 April 2020

Takut dengan Corona atau Takut dengan Kematian?

Foto: Istimewa

Virus Corona berasal dari Wuhan, China, Virus ini mulai di ketahui sejak desember tahun 2019. Penyebarannya begitu cepat dari orang perorang, sehingga sangatlah mengerikan dan mematikan. karena begitu parahnya  yang terkena virus ini, maka banyak orang yang merasa ketakutan. Sudah banyak negara yang mengonfirmasi tentang warganya atau salah satu warganya yang terkena virus corona ini.

China sendiri melakukan lockdown di negaranya agar virus ini tidak dapat menyebar secara meluas ke kotanya atau kenegara lainnya. Pada saat seperti ini  maka banyak negara yang ingin melakukan lockdown di negaranya. Beberapa negara yang juga sudah melakukan lockdown yaitu Italia, Malaysia, Amerika, Singapura.

                Indonesia pada saat ini sudah mengkonfirmasi tentang adanya infeksi virus corona yang berjumlah lebih dari tiga ribu kasus yang telah menyebar di seluruh wilayah indonesia. Pemerintah sendiri juga sudah mengupayakan agar dapat memutus rantai peneluran virus corona. melalui social distancing, physical distancing dan melakukan berabagai penyemprotan disinfektan di berbagai wilayah Iindonesia. Di Jakarta sendiri sudah malakukan social distancing berskala besar. Berbagai wilyah atau kota sudah memberlakukan lockdown untuk mengantisipasi penyebaran virus corona. Pemerintah juga berada di dalam dilema yang sangat besar, karena pada dasarnya pemerintah masih mempertimbangkan memberlakukan lockdown atau masih tetap berlanjut sesuai instruksi awal. Jika Indonesia melakukan lockdown maka perekonomian Indonesia yang sedang berkembang akan merosot ke bawah dan mengalami kerugian yang sangat besar.

                Banyak yang sudah meninggal karena virus corona ini dan yang sangat memprihatinkan adalah setiap harinya selalu bertambah. Padahal pemerintah sendiri juga sudah mengupayakan agar virus ini dapat berhenti dan kembali normal. Entah apa yang menjadikan virus ini begitu mematikan dan sangat berbahaya. Masyarakat indonesia begitu ketakutan dalam menghadapi virus ini. Tapi bagi diri saya sendiri virus corona bukanlah malaikat yang setiap detiknya dapat mencabut nyawa seseorang. Dan yang membuat saya sedih adalah kenapa manusia tidak pernah berfikir dan belajar dari adanya virus yang lebih dikenal dengan covid-19 ini. Tuhan sudah mengatur tanggal kematian kita tapi kenapa kita tidak pernah mau berfikir Tuhan lah yang tahu kematian manusia. Bukannya saya mau berlagak sok suci atau bagaimana. Saya belajar begitu banyak hal dari covid-19 ini.

Kemarin saya melihat di tv banyak masyarakat yang menolak dimakamkannya korban virus corana. Tapi kenapa masyarakat begitu buta tentang ini apakah mereka takut dengan virus ini atau mereka takut dengan kematian yang akan menjemput mereka. Kita tidak akan pernah tahu virus ini akan menyebar ke siapa atau akan mematikan siapa yang kita tahu hanya kabar bahwa virus ini sudah menyerang dan mematikan. Maka dari itu juga kita juga harus lebih banyak berserah diri kepada Tuhan dan lebih banyak memohon ampunan kepada Tuhan kita yang sedang terjadi di dunia khususnya di negara ini juga.

Saya membayangkan bahwa jika yang terkena itu adalah anggota keluarga saya bagaimana perasaaan saya? Bagaimana perasaan mereka yang manusia yang juga punya keluarga? Bagaimana jika itu anggota keluarga mereka? Sungguh pada saat momen ini saya sangat sedih sekali, karena pada saat saya melihat di tv, pas dimakamkan saja anggota keluarganya tidak boleh mendekat, tidak boleh melihat wajah atau melihat seseorang anggota keluarganya dikuburkan di mana. Maka dari itu saya mengajak bersama teman teman saya yang sedang berkuliah agar mau belajar tentang arti kematian yang sesungguhnya, dan kepedulian yang sebenarnya, arti sosial yang sebenarnya. 

Tidak hanya mahasiswa saja, seluruh elemen pun semua harus juga belajar denga adanya covid-19 ini. Marilah kita jangan memetingkankan ego kita. Cukup untuk semua itu, kita tidak usah terlalu mengkritik tentang pemerintah. Pemerintah saja kebingungan mengurusi ini. Yang kita harus lakukan adalah jika kita tidak bisa berbuat lebih sebaiknya kita mengkuti arahan dari pemerintah dan mau menerima jenazah korban covid-19. Tapi klo bisa berbuat lebih maka donasikanlah sesuatu yang berguna bagi masyarakat atau petugas medis yang sedang melawan virus corona. Stop untuk tidak menyebar berita2 hoaks lainya. Berikan kata semangat untuk mereka yang sedang terkena atau melawan virus (DK




Senin, 06 April 2020

SOEKARNO DAN MARXISME


Foto: Istimewa

Sebuah catatan terbesar bagi negeri ini memiliki tokoh hebat dan bijaksana terhadap rakyatnya. Sosok itu ialah Bung Karno, bapak proklamator RI. Memasuki masa dewasanya Bung Karno menghabiskan waktunya dengan buku-buku. Ia mengenal marxisme sejak berusia 17 tahun. Pada saat itu beliau di jejali oleh sang gurunya yaitu HOS. Tjokro Aminoto dengan bacaan-bacaan kiri.

Salah satu ciri khas yang menjadi pembeda antara Bung Karno dengan politisi saat ini adalah penguasaanya dalam teori-teori politik. Ia bukan seorang politisi karbitan atau  dari politisi keturunan. Ia juga bukan politisi ngawur-awuran, yang landasan tindakannya tidak didasarkan sebuah panduan yang jernih dan solid. Sebaliknya, seluruh  landasan tindakan politik dari Bung Karno merupakan refleksi atas kondisi sosial pada masanya, dan semua itu di tuangkan dalam catatan-catatannya dan dalam pidatonya yang menggebu-gebu. Salah satu yang mempengaruhi sumber pemikiran realitas Bung Karno dengan lebih mendalam dan utuh yakni marxisme.

Hal tersebut diakuinya sendiri pada sebuah koran pada tahun 1941, ia menyampaikan bahwa “teori marxisme adalah teori-teori yang saya anggap kompeten dalam memecahkan permasalahan kelas-kelas politik, dan kelas-kelas kemasyarakatan”. Jadi Bung Karno adalah seseosok manusia pergerakan dengan bersenjata marxisme.

Bagi saya sendiri berpendapat, hal tersebut tidak berlebihan bahwa marxisme telah berjasa besar di kehidupan Bung Karno ini. Sebab, dengan adanya marxisme yang tumbuh di dalam kehidupan Bung Karno, ia menjadi tidak rasis dengan kolonialisme, sebagai utaraan ekspresi berkulit putih. Dia sadar bahwa adanya kolonialisme adalah konsekuensi dari adanya kapitalisme yang membutuhkan sumber bahan baku, menghabiskan tatanan negeri, tenaga kerja murah, penjualan di pasar menjadi mahal, dan mengakomodasi lahan baru sebagai prasyarat keberlanjutan dari prose akumulasi sistem kapital.

Tidak lepas dari Bung Karno adalah sesosok yang memeluk nasionalisme sebelum jauh-jauh dari chauvuinisme dan fasisme. Karena Bung Karno bercampur dengan nasionalisme, ia memiliki jiwa sangat progresif. Bisa dikatakan, ia adalah nasionalisme kiri, karena selalu mengedepankan cita-cita kesejahteraan masyarakat dan kelas proletar sebagai tujuan utamanya.

Pada tahun 1958 Bung Karno mencetuskan kolaborasi yang memunculkan sebuah pemikiran marxis namun ala-ala indonesia yakni Marhaenisme. Marhaenisme itu sendiri diambil dari nama petani di daerah bandung, Bung Karno menemukan Marhaenisme pada saat melakukan riset di bandung selatan pada tahun 1921. Bung Karno menyebutkan bahwa marhaenisme sebagai marxisme yang dapat di berlakukan, dan di cocokan di indonesia.

Tentu saja yang menjadi pertanyaan apakah ada kaitannya yang dicocokkan antara marxisme dengan keadaan indonesia? Sebagai seorang pemarxis, Bung Karno menganalisa dengan memakai kelas sosial. Menurut bacaan Bung Karno, selalu ada kelas sosial yang memainkan tugas sejarah untuk mengubah relasi produksi agar sejalan dengan tenaga-tenaga pekerja produktif. Kalo di eropa tugas sejarah yakni proletar. Namun masyarakat indonesia berbeda, kendati masyarakat proletarnya sudah ada, seperti para pekerja di pertambangan. Tetapi komoditas jumlahnya masih kecil, masyarakat indonesia lebih dominan para pemilik produksi kecil, perdagangan kecil, pertanian keci, dan usaha kecil. Kehidupan mereka sangat sengsara dan bisa dikatakan sebagai masyarakat tertindas.

Sejalan dengan keadan tertindas itu, proletar berbeda dengan marhaen, proletar adalah terminologi yang dikembangkan oleh marx untuk menjelaskan perkembangan kapitalisme di Eropa. Sedangkan marhaen mereka yang memiliki alat produksi kecil, yang tidak menyewa, di kerjakan oleh keluarganya, dan hasil upah produksinya untuk menghidupi kehidupan keluarganya.

Cita-cita marhaenisme itu sendiri memperkuat dan mendorong para buruh dan kaum miskin lainnya, tentunya untuk menggulingkan sistem kapitalisme dan imperialisme, sebabnya sistem kedua tersebut telah menindas rakyat jelata. Pada tanggal 17 agustus 1946 dalam pidatonya Bung Karno menyatakan bahwa Revolusi Indonesia yang bergejolak pada tahun 1945 bermuara pada Sosialisme Indonesia. Esensi dari Sosialisme itu sendiri adalah kesejahteraan sosial dan kemakmuran bagi setiap orang. Sebagai prasyarat, harus ada kepemilikan pabrik yang kolektif, harus ada industrialistik yang kolektif, ada produksi yang kolektif, dan harus ada distributif yang kolektif.

Selain itu Bung Karno menegaskan bahwasannya “Sosialisme Indonesia sebagai hari depan, revolusi indonesia bukan semata-mata ide ciptaan seseorang (dalam satu malam tidak tidur), juga bukanlah barang yang diimpor dari luar negeri lalu kita bisa menikmati, atau hal paksaan dari masyarakat luar indonesia. Akan tetapi, suatu perlawanan penentangan daripada kaum tertekan. Suatu kesadaran sosial yang ditimbulkan oleh masyarakat indonesia sendiri, dan sebuah suatu keharusan dari sejarah. Dengan demikian, sosialisme menjadi patokan masyarakat indonesia dengan tradisi progresif yang melekat dan mengakar ditubuh masyarakat indonesia yakni gotong royong.

Untuk mewujudkan Sosialisme Indonesia, Bung Karno belajar dari revolusi perancis. Pada masa itu, kaum borjuis menarik kaum proletar dan kaum tani dalam persekutuan dibawah slogan kebebasan, persamaan, dan persaudaraan untuk menumbangkan kekuasaan feodalisme. Begitu kekuasaan feodal tumbang, kaum borjuis membangun kekuasaannya sendiri dengan menyingkirkan kaum proletar dan kaum miskin lainnya. Bung Karno mewanti-wanti betul kejadian revolusi perancis tidak terulang dalam revolusi indonesia. Oleh karenanya, dalam perjungan mendatangkan kemerdekaannya pada tahun 1945, kaum marhaen harus tetap menjaganya supaya tidak kena getahnya, akan tetapi kaum borjuis atau feodal yang memakan buahnya.

Demikian seorang Bung Karno membuat 2 (dua) gagasan terbesarnya yaitu Sosio-Nasionalisme dan Sosio-Demokrasi. Sosio nasionalisme adalah nasionalisme yang berpihak terhadap massa-rakyat. Sosio-nasionalisme menolak kapitalisme dan feodalisme. Sosio-nasionalisme mencita-citakan sebuah masyrakat yang di dalamnya tidak ada penindasan dan eksploitasi oleh suatu kelas terhadap kelas tertentu. Secara harfiah sosio-nasionalisme yang mengkhendaki masyarakat tanpa kelas.

Dalam capaiannya Sosio-nasionalisme menawarkan prinsip beberapa hal. Pertama, Sosio-nasionalisme politik dan Sosio-nasionalisme ekonomi berdikari. Sosio-nasionalisme politik nasional dan berdaulat menjamin penyelenggaraan kekuasaan politik terhadap negara republik indonesia tidak di recoki. Dan Sosio-nasionalisme ekonomi berdikari, memastikan kedaulatan negara terhadap seluruh kekayaan ekonomi sosial. Kedua, Sosio-nasionalisme menempatkan kemerdekaan sebagai jembatan emas untuk mencapai cita-cita masyarakat maupun negara untuk yang lebih tinggi, yakni masyarakat adil dan makmur. Ketiga, mengolaborasikan dalam semangat kebangsaan dan kemanusiaan. Demikian Sosio-nasionalisme mencegah terjadinya nasionalisme yang sempit. Selain itu sosionalime menganggap perjuangan emansipasi nasional tidak terpisahkan dalam perjuangan bangsa-bangsa diseluruh dunia untuk mewujudkan bangsa yang adil dan beradab.

Kemudian dalam sosio-demokrasi, yakni antitesa dari demokrasi parlementer yang dihasilkan oleh revolusi perancis. Sosio-demokrasi juga menyatakan keberpihakan, yakni kepada rakyat marhaen. Secara harfiah, sosio-demokrasi berarti demokrasi masyarakat atau demokrasi massa-rakyat. Karena keberpihakan sosio-demokrasi tersebut menolak kapitalisme dan feodalisme. Yang menjadi pertanyaan apa hubungan sosio-demokrasi dengan cita-cita marhaenisme, yang mewujudkan masyarakat adil dan makmur?

Dalam prinsipnya sosio-demokrasi menawarkan beberapa hal. Pertama, sosio-demokrasi mengidamkan kekuasaan politik ditangan rakyat marhaen. Bentuk konkretnya yakni negara yang berisikan rakyat, seluruh urusan ekonomi di pegang oleh rakyat, dengan rakyat dan untuk rakyat. Kedua, sosio-demokrasi mendorong kepemilikian sosial terhadap alat-alat produksi dan sumber daya ekonomi. Ini adalah sebuah langkah untuk menentukan demokrasi ekonomi, maka dengan di lapangan politik dan budaya menjadi sangat mungkin. Oleh karenanya, ekonomi pangkal dari sumber segala bagi kehidupan politik dan sosial budaya. Ketiga, menyerahkan urusan ekonomi dan politik di tangan rakyat. Sosio-demokrasi menghilangkan pemisahan antar ekonomi dan politk yang lazim digunakan pada sistem kapitalisme. Untuk pemenuhan kebutuhan ekonomi tidak dianggap sebagai individualistik namun menjadi urusan kolektif.

Bung Karno tidak berhenti dalam gagasanya, ia juga menawarkan gagasannya yakni strategi politik. Menurutnya, dalam mewujudkan Sosialisme Indonesia revolusi harus ditempuh menggunakan 2 (dua) fase yakni fase nasional demokratis dan fase sosialis. Dalam nasionalis demokratis kita akan mendirikan negara yang merdeka dan demokratis, sedangkan dalam fase sosialisme kita akan mendirikan sosialisme (gotong royong). Dalam fase nasionalis demokratis kita akan mengakhiri penindasan sosial dan menghancurkan sisa-sisa feodalisme. Tentunya perjuangan kita dalam nasionalis demokratis untuk menghancurkan kolonialisme di lapangan politik, ekonomi, dan sosial budaya.

Dalam fase nasionalis demokratis, untuk menyiapkan syarat-syarat fase selanjutnya yakni revolusi sosialis.  Syarat-syarat tersebut antara lain yakni, mencerdaskan kehidupan bangsa, mendorong demokrasi seluas-luasnya, dan membangun kepribadian mental sebuah bangsa. Dengan demikian, revolusi sosialisme yang mengarah pada perwujudan sosialis indonesia yang tidak ada lagi kapitalisme. Salah satu ciri poin utama dalam sosialisme adalah kepemilikan sosial terhadap alat produksi. Dan seperti yang dikatakan oleh Bung Karno, negara hanya berfungsi sebagai organisasi atau alat, akan tetapi kepemilikan yang sesungguhnya harus ditangan rakyat.

Penulis : Bung Andre, salah satu Kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Ig/Twitter : @dresone


Senin, 22 April 2019

Memperingati Harlah ke-59 dengan Khidmat


Pergerakan mahasiswa Islam Indonesia Komisariat Sunan Muria memperingati harlah PMII yang ke-59 secara seremonial bersamaan dengan silaturahim para alumni.

Kegiatan yang dilaksanakan di balai desa Peganjaran, Bae, berlangsung khidmat. Terlebih memasuki acara doa bersama dan pemotongan tumpeng yang diwakili oleh Sahabat Muhammad Arifin dan Syaiful Bahri, mantan Ketua PC PMII Kudus.


Syaiful mengungkapkan dalam sesi ramah tamah bahwa, mahasiswa di zaman ini sudah mulai lupa bagaimana esensi dalam pergerakan. Tujuan dan cita-cita luhur dalam PMI haruslah selalu diingat dan ditanamkan dalam jiwa masing-masing pribadi, sehingga anggota dan kader PMII bisa berkhidmat dengan ikhlas.

"Pergerakan ya mengajak orang lain untuk berproses bersama. Kalau hanya mempromosikan acara atau menempel pamflet, ya namanya tukang tempel pamflet." Celetuknya yang khas, dengan nada tertawa.

Para kader dan anggota harusnya mengetahui apa kemampuan yang diri mereka miliki. Dengan demikian, akan lebih mempermudah organisasi untuk mencapai tujuannya. Pasalnya setiap kader dan anggota tentu memiliki banyak keterbatasan. Dengan berproses bersama dan mengetahui kemampuan apa yang mereka miliki, maka kekeluargaan yang ada dalam organisasi tersebut akan terbentuk dengan solid.



Mantan ketua komisariat sunan Muria, Imam Hasan Ansori turut hadir dalam acara tersebut. Hasan menuturkan, adanya harlah adalah sebagai momen untuk berevaluasi.

"Setiap tahun diadakan harlah. Maka dari harlah yang satu dengan yang lain harus ada perubahan ke arah lebih baik." Tambahnya.

Dengan adanya acara tersebut, para kader dan anggota diharapkan termotivasi untuk dapat memunculkan ide dan gagasan yang mampu memajukan PMII Sunan Muria.

Selasa, 04 Desember 2018

Romantisme Pergerakan PMII Sunan Muria 2018


Jepara- Malam semakin larut tapi kebersamaan masih  berlanjut di kawasan pantai Gua Manik, Jepara. Aksi penerbangan lampion yang dilakukan dalam acara Romantisme Pergerakan PMII Komisariat Sunan Muria.
Kegiatan yang bertema “Tanamkan Kebersamaan Pupuk Persahabatan Hasilkan Persaudaraan”, diadakan kemarin Sabtu-Ahad, 1-2 Desember 2018 di kawasan Pantai Gua Manik, Jepara.
Add caption
Sahabat Johan selaku Ketua Panitia mengatakan, tujuan dari kegiatan ini adalah untuk mempererat hubungan silaturahmi antara anggota ,Kader serta Pengurus, Karena memang di 2 tahun terakhir ini Mapaba dilakukan Per Rayon sehingga anggota baru yang baru selesai mapaba di Rayonnya masing-masing masih belum kenal dengan sahabat sahabati dari Rayon yang lain di lingkungan Komisariat Sunan Muia
“kegiatan ini sangatlah baik dan sebisa mungkin di biasakan, karena selain kita dapat mengenal satu sama lain, hubungan emosional antar kader akan semakin kuat. Ketika hubungan emosional kuat maka intelektualitas dalam organisasi juga akan semakin kuat. Bareng bareng Guyub Rukun Noto Komisariat lan Rayon”.Imbuh Ahmad Yusron Ketua Komisariat Sunan Muria
Menurut Rika Yaitul Islami salah satu kader dari KHD mengungkapkan "saya sangat senang karena diadakannya Romantisme Pergerakan 2018 ini yang diikuti oleh Puluhan Anggota dan Kader di Lingkungan Komisariat Sunan Muria baik dari Rayon Ki Hadjar Dewantara (FKIP), Rayon Moh Hatta (FEB), Rayon Teknik(FT), Rayon Persiapan Pertanian (FP) serta anggota dari Fakultas Hukum dan semoga hubungan persahabatan ini tidak hanya selesai pada acara ini melainkan belanjut sampai Pasca di PMII atau menjadi Almni PMII.
Sekilas Romantisme Pergerakan 2018
Kegiatan Romantisme Pergerakan  ini di adakan oleh Pengurus Komisariat PMII Komisariat Sunan Muria UMK Cabang Kudus dengan tema “Tanamkan Kebersamaan Pupuk Persahabatan Hasilkan Persaudaraan”. Dimana pesertanya dari Internal  PMII Komisariat Sunan Muria UMK Kudus beserta Rayon Ki Hadjar, Rayon Teknik , Rayon Moh Hatta dan Rayon Persiapan Pertanian Serta Kader dari Fakultas Hukum .
Selain untuk mengenal dalam ada beberapa kegiatan diantaranya Berlatih untuk orasi, penerbangan lampion, Outbound, dll
“Terima kasih atas kebersamaannya sahabat sahabati semua, semoga hubungan silaturahmi ini semakin erat dan kuat di PMII Sunan Muria untuk terus memperjuangkan Cita cita kemerdekaan Indonesia.. Salam Pergerakan!!! Imbuh Sahabat Johan.

Sabtu, 17 November 2018

Pengurus Rayon PMII Sunan Muria UMK melakukan Mapaba







     
KUDUS -  Pengurus Rayon Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat Sunan Muria Universitas Muria Kudus melakukan kegiatan  MAPABA(Masa Penerimaan Anggota Baru).

               Mapaba adalah sebuah proses awal kaderisasi di PMII, yang mana  menjadi langkah awal untuk menjadi anggota PMI.
       Menurut Ketua Komisariat Sunan Muria, Sahabat Ahmad Yusron, Mapaba merupakan agenda rutin   yang dilakukan oleh PMII Sunan Muria yang biasanya dilakukan serentak 3 Rayon di jadikan satu. Namun di 2 tahun terakhir ini kami berusaha untuk per Rayon melakukan Mapaba tersendiri yakni Mapaba dari PR PMII Rayon Moh Hatta, PR PMII KiHadjar Dewantara & Rayon Persiapan Pertanian, serta PR PMII Rayon Teknik yang mana Mapaba ini dilakukan setiap hari Jumat- Ahad dari tanggal 12 Oktober-11 November 2018. hal ini menjadikan calon anggota yang misal tidak bisa mengikuti mapaba di Rayonnya bisa mengikuti Rayon yang lain.Hal ini juga berakibat naiknya jumlah anggota PMII Sunan Muria yang mana biasanya perTahun anggota baru sekitar 100an di 2 tahun terakhir naik menjadi 150an.
Dengan naiknya jumlah anggota ini menjadi berkah sekaligus menjadi tugas lebih bagi pengurus untuk lebih mengawal anggota anggota baru kami, imbuhnya


Sabtu, 09 Desember 2017

PMII Peduli Jogja Pacitan

PMII Sunan Muria tengah melakukan galang dana
Kudus - Sejumlah Mahasiswa yang tergabung dalam Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Komisariat Sunan Muria Universitas Muria Kudus tengah melakukan penggalangan dana untuk membantu korban banjir Pacitan dan Yogyakarta. Aksi yang bertemakan “PMII Sunan Muria peduli bencana Jogja, Pacitan” ini diikuti sekitar 50 orang, Rabu (6/12/2017).
Aksi ini terbagi menjadi 2 sesi. Sesi pertama berlokasi di 5 titik lampu merah pada siang harinya (Proliman, Aisyiyah, Ngembal, Jember, Tanjung) dan sesi kedua di alun-alun Kudus pada malam harinya.
Koordinator aksi, Ahmad Yusron mengungkapkan bahwa aksi tersebut sebagai bentuk kepedulian terhadap bencana yang melanda beberapa daerah dan bentuk untuk mengasah sisi kemanusiaan anggota dan kader.
“Kami selalu melakukan penggalangan dana sebagai bentuk kepekaan dan kepeduliaan terhadap bencana yang terjadi” ujar Yusron.
Sementara itu, Ketua PMII Komisariat Sunan Muria Noor Khayati mengungkapkan bahwa kepekaan dan kepedulian anggota dan kader PMII harus dipertahankan bahkan ditingkatkan. Aksi ini juga sebagai bentuk keprihatinan mereka terhadap korban bencana banjir di Jogja dan Pacitan.
Sumbangan yang terkumpul hingga hari ini sebesar Rp 4 Juta. Rencananya sumbangan tersebut akan disalurkan melalui PMII Jogja dan Pacitan yang lokasinya lebih dekat dengan bencana.


Selasa, 28 November 2017

Kukuhkan Pengurus Baru, PMII Siap Tangkal Radikalisme di Kampus

Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB PMII) mengukuhkan 100 orang lebih, sebagai pengurus baru yang tersebar di seluruh perguruan tinggi. Jumlah tersebut merupakan pengurus harian, baik PB PMII maupun Korps PMII Putri (Kopri).

Ketua Umum PB PMII Agus Mulyono Herlambang mengatakan, momen Hari Kesaktian Pancasila dijadikan pelecut semangat pengurus, untuk menangkal radikalisme. Pancasila sebagai azas tunggal dalam berorganiasi.

"Tidak ada lagi azas yang lainnya dalam berorganisasi dan bernegara," tegas Agus, Jakarta, Senin, 2 Oktober 2017.

Agus menegaskan, PMII dipastikan berkomitmen menjadi garda terdepan dalam proses deradikalisasi di kampus. Dia menyayangkan adanya organisasi yang ngotot menggantikan Pancasila dan munculnya radikalisme di dunia pendidikan.

Dengan keberadaan PMII yang sudah memiliki 230 cabang dan 24 koordinator cabang di seluruh Indonesia, kata Agus, bukan hal yang tak mungkin jika organisasi ini bisa menangkal radikalisasi di kalangan kampus.

"PMII akan mampu memperkenalkan Islam Indonesia yang rahmatan lil alamin," kata dia.

Menurut Agus, PB PMII memiliki empat agenda besar. Antaralain, membumikan ahlusunnah wal jama'ah di internal kampus, fokus modulasi dalam gerakan advokasi, mendorong gerakan enterpreneurship, dan memperkenalkan Islam yang ramah dalam ranah internasional, terutama di forum-forum internasional.

"Untuk itu, diharapkan para pengurus bisa menjaga kekompakan. Di mana, kekompakan menjadi syarat dan modal dalam bergerak," tandas Ketua Umum PB PMII.

Sabtu, 25 November 2017

Diskusi Sejarah R.M.P Sosrokartono



Diskusi sejarah peringatan hari pahlawan
Kudus – Pengurus Komisariat Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Sunan Muria menggelar Diskusi Sejarah R.M.P Sosrokartono dalam rangka peringatan hari pahlawan yang jatuh setiap tanggal 10 November. Diskusi yang bertemakan “Perkokoh Persatuan untuk Negeri demi Terciptanya Indonesia Hebat”  diikuti oleh seluruh anggota dan kader PMII Sunan Muria, Kamis (16/11/2017).
Ketua pelaksana kegiatan Zuhri Syarofi, mengungkapkan bahwa kegiatan tersebut tidak hanya sebagai peringatan hari pahlawan saja, melainkan sebagai ajang silaturrahim dan sarana untuk mengenal R.M.P Sosrokartono yang selama ini dikenal sebagai kakak dari R.A Kartini.
“Kegiatan ini dilatarbelakangi adanya kondisi bahwa banyak yang belum mengenal sosok R.M.P Sosrokartono yang juga termasuk Pahlawan dan Guru Ir.Soekarno” ujar zuhri.
Sementara itu, Ketua PMII Komisariat Sunan Muria Noor Khayati mengungkapkan bahwa diskusi seperti ini sangat perlu dan harus dilestarikan. Karena melalui kegiatan seperti ini, kader PMII dapat meneladani dan mengambil pelajaran dari perjalan hidup R.M.P Sosrokartono. Selain itu, diharapkan kegiatan ini dapat meningkatkan daya nalar kritis kader dalam berintelektual.
"R.M.P Sosrokartono merupakan putra dari R.M. Ario Sosrodiningrat dan kakak dari R.A Kartini. Beliau adalah mahasiswa Indonesia pertama yang meneruskan pendidikan ke negeri Belanda dan telah menunjukkan kepandaiannya sejak kecil. Banyak hal yang bisa kita teladani dari mbah Sosrokartono salah satunya adalah Catur Murti, dimana Pikiran, Perkataan, Perbuatan dan Perasaan haruslah selaras. Selain itu, H. Temu Sunarto mengungkapkan kebahagiannya karena kegiatan ini menunjukkan bahwa masih ada anak muda yang ingin belajar sejarah dan meneladaninya” ujar H. Temu.

Jumat, 21 Juli 2017

Pengurus Baru Sunan Muria Resmi Dilantik

Iqbal Abdul Rouf (Ketum PC PMII Kudus) sedang melantik Pengurus Rayon dan Komisariat Sunan Muria
Kudus - Sejumlah pengurus Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat Sunan Muria Universitas Muria Kudus (UMK) masa khidmat 2017-2018 beserta tiga Rayonnya telah resmi dilantik, Minggu (16/7/2017) pagi. Acara Pelantikan dan Halal bi halal dengan tema "Merajut Silaturrahim Menuju Sinergitas Pergerakan" tersebut diselenggarakan oleh perwakilan pengurus Komisariat dan Rayon PMII Sunan Muria UMK.

Acara yang berlangsung di gedung PCNU Kudus tersebut dihadiri oleh sejumlah anggota, kader, senior dan alumni. Diantaranya yaitu, Suwoko, Ahmad Amir faisol, Panji Subrata, dan Agus Sulistiyo yang sekaligus menjadi narasumber diskusi. Dalam diskusi, Ahmad Amir Faisol mengaku banyak ilmu yang dia dapat dari PMII. “Saya bisa menjadi seperti ini berkat PMII. Dengan memperbanyak silaturrahim saya merasa terbantu karena memiliki banyak jaringan”, ungkapnya.

Sedangkan Suwoko, satu diantara sejumlah Majelis Pembina Komisariat (Mabinkom) PMII Sunan Muria berpesan agar Rayon maupun Komisariat nantinya dalam rapat kerja membuat program yang relevan dan harus melihat kebutuhan kader. “Jangan lupa untuk melibatkan alumni yang sudah tersebar di berbagai profesi. Ada yang di jurnalis, politik, berwirausaha, dan pendidikan”, terangnya.

Dua narasumber lain, Agus Sulistyo dan Panji Subrata, sepakat untuk bisa melibatkan alumni dalam proses belajar. Selain itu mereka juga bercerita tentang pengalamannya di PMII dan merindukan momen berkumpul bersama sahabat-sahabat PMII. Halal bi halal menjadi momen dimana alumni dan senior menceritakan romantisme pergerakan kala itu.

Dalam sambutan, Iqbal Abdul Rouf, berharap kepengurusan baru mampu melebarkan sayap. "Diharapkan kepengurusan baru mampu melebarkan sayap kaderisasi ke fakultas yang belum ada Rayonya". tutur ketua PC PMII Kudus itu.

Noor Khayati selaku ketua Komisariat Sunan Muria UMK masa khidmat 2017-2018, menegaskan untuk tetap merapatkan barisan dan maju bersama demi mewujudkan PMII Sunan Muria UMK yang lebih baik. Tidak hanya itu, intelektualitas kader dan anggota juga perlu ditingkatkan dalam mewarnai dinamika pergerakan yang ada.

Dia juga menjelaskan, tiga Rayon yang dilantik yaitu, Rayon Ki Hajar Dewantara, Rayon Teknik dan Rayon Moh Hatta. “Kami berharap kedekatan emosional kader, senior dan alumni dapat terjaga demi terciptanya sinergitas pergerakan. Dan kami meminta doa restu serta dukungan kepada senior dan alumni agar mampu menjalankan roda organisasi dengan penuh tanggung jawab dan membawa PMII Sunan Muria UMK menjadi lebih baik,” terangnya saat ditemui usai acara.

Senin, 14 Maret 2016

Kepengurusan Rayon Ekonomi 2013-2014

DAFTAR KEPENGURUSAN
RAYON MOHAMMAD HATTA FAKULTAS EKONOMI
PERGERAKAN MAHASISWA ISLAM INDONESIA KOMISARIAT SUNAN MURIA
UNIVERSITAS MURIA KUDUS
PERIODE 2013/2014

BADAN PENGURUS HARIAN
Ketua                   : Muhammad Arifin Alfatawi
Wakil Ketua          : Ahmad Rosyidi Ainul Yaqin
Sekretaris             : Farah Illaina
                               Anik Ainur Rofiah
Bendahara            : Lilis Juniarti

Pengurus Rayon Teknik 2013-2014

STRUKTUR KEPENGURUSAN RAYON TEKNIK
PERGERAKAN MAHASISWA ISLAM INDONESIA
KOMISARIAT SUNAN MURIA UNIVERSITAS MURIA KUDUS
Periode 2013-2014
Ketua                     : Veti Andriyani
Wakil Ketua           : Afrizal Annas
Sekretaris             : Lissa Okta Alfiani
Bendahara            : Neny Novita U.

Kepengurusan Rayon FKIP 2013-2014

STRUKTUR KEPENGURUSAN
PERGERAKAN MAHASISWA ISLAM INDONESIA
RAYON KI HAJAR DEWANTARA (KIP)
KOMISARIAT SUNAN MURIA (UMK)
CABANG KUDUS
2013/2014

BADAN PENGURUS HARIAN
Ketua                          : Fitriya Dwi Noor Aini
Wakil Ketua                : Moh. Nur Huda
Sekretaris                    : Ira Marantika 
Bendahara                   : Linda Ayu Muslimah 

Kepengurusan Komisariat periode 2014/2015

DAFTAR KEPENGURUSAN
PERGERAKAN MAHASISWA ISLAM INDONESIA KOMISARIAT SUNAN MURIA
UNIVERSITAS MURIA KUDUS
PERIODE 2014/2015

Ketua Umum              : Imam Prastyo Arwindra
Ketua I                        : Ahmad Anwar
Ketua II                      : Deny Setya Budi
Ketua III                     : Ardian Bagus Wicaksana
Sekretaris                    : Achmad Hasan
Bendahara                   : Nor Dhorifah

Minggu, 06 Maret 2016

PEMIMPIN BARU, SEMANGAT BARU!

Kudus - Sabtu (5/3) telah berlangsung RTAR (Rapat Tahunan Anggota Rayon) II PMII Rayon Moh Hatta dg sangat cermat dan menarik antusias para sahabat. Kegiatan yang berlangsung di Kantor Sekretariat PMII Komisariat Sunan Muria Desa Dersalam itu dibuka oleh Sahabat Imam Prastyo Arwindra, Wakil Ketua I PC PMII Kudus, pukul 15.00 WIB dengan dihadiri oleh seluruh anggota dan kader PMII UMK dan segenap Pengurus Cabang.

Sabtu, 05 September 2015

Sekilas Tentang PMII

Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) lahir karena menjadi suatu kebutuhan dalam menjawab tantangan zaman.
Organisasi kemahasiswaan yang berdiri pada tahun 1960 ini akan senantiasa bergerak memberikan kontribusi positif, insan dinamis, insan sosial dan insan mandiri, serta berkomitmen dalam memperjuangkan cita-cita kemerdekaan Indonesia.
Ingin bergabung?, Silahkan klik link ini Form Pendaftaran Anggota Baru PMII Komisariat Sunan Muria Universitas Muria Kudus.