Minggu, 24 Januari 2021

PERDU BERDURI



"Tak bermaksud menyakiti, hanya membela diri. Tak peduli apapun, bisa terus hidup. Dibandingkan bunga, aku ingin Diajeng tumbuh seperti itu."




Pagi ini terasa sama. Hanya gelap. Namun tak sunyi.

Aku dapat mendengar suara degup jantungku sendiri, degup nyaman saat tak ada yang menarik. Serta suara lembut Ibu yang bicara berita masa kini. Juga suara sendok teh dan gelas keramik yang beradu mengiringi aroma kopi milik Bapak yang selalu membuatku menebak seperti apa bentuk kepulan asapnya di setiap pagi. 

Ya, Pagiku selalu seru. Apalagi jika dia datang.

"Assalamu'alaikum.."

"Waalaikumsalam.. Sinyo sudah datang? Masuk, Nyo.."

Ibuku kerap kali memanggilnya Sinyo, dan akupun begitu. Bukan, bukan dia tokoh dalam buku karya seorang penulis ulung. Hanya nama kecil yang diberikan Ibu padanya. Nyatanya ia hanya hasil silang Jawa-Sunda. Tak ada Belanda. Nama lahirnya Hari Bagaskara. Secerah namanya, sekali bercerita Ibu bilang kalau matanya berbinar dan senyumannya manis. Semanis gendhis, gula Jawa. Kulitnya pun begitu. Ibu bilang rambutnya kemerahan, hasil seharian penuh menemaniku di bawah terik. Pun kaki Sinyo juga panjang. Dia pasti begitu rupawan. Malang betul aku tak pernah melihat. 

Aku dan Sinyo sering berjalan kaki ke sekolah. Katanya, Sinyo tak terlalu tertarik berkendara. Hanya sesekali menunggang sepeda besi peninggalan Abahnya dengan aku berada di boncengan belakang sambil memeluk pinggang. Tentu semua itu hanya sebuah dalih karena sebuah permintaan, juga karena sebuah tragedi silam.

Pernah kubilang ingin mendengar suara pasir tersapu sol sepatu pada Sinyo. Dan sampai sekarang, hingga aku fasih dengan suaranya, Sinyo masih turut berjalan kaki menuntunku. Demi aku dapat mendengar apa yang ingin kudengar. 

Sudah mungkin sepuluh menit adanya? Aku berjalan dengan Sinyo yang senantiasa bergumam sebuah lagu, acap kali kudengar di radio atau televisi. Sesekali akan ada seseorang yang lewat menyapa,  atau sekadar menggoda Sinyo. Saat bosan Sinyo akan bergumam sembari menepuk pelan lenganku sesuai irama, atau paling tidak mengajakku bicara tentang banyak hal. Apapun, yang dia lihat saat menuntunku berjalan kaki. Parahnya, pantat kerbau berkerumun lalat pun sempat dibahasnya. 

Saat Sinyo mulai bicara hal aneh, baru aku yang mengajaknya bersua agar dia lupa. 

"Nyo, apakah disekitarku hanya ada pasir? Berisik betul bunyinya", tanyaku padanya.

"Tidak, Jeng… Sebuah tumbuhan yang kukagumi banyak tumbuh di sekitar kakimu."

Diajeng, panggilnya padaku. Tak mengerti kenapa dia memanggil begitu, kuiyakan karena nama itu bukan nama aneh yang sembarangan diberikan pada orang. 


Langkahku terhenti, Sinyo mengikuti. Aku merunduk meski tak dapat kulihat satupun. Apa Sinyo membawaku menginjak sebuah kebun bunga? Setega itukah dia? 

Semakin kuat pijakanku pada tanah, semakin penasaran pula dengan apa yang kuinjak. "Kau melewati kebun bunga yang mana satu, Nyo? Kupikir tak pernah ada kebun bunga disini."

Sinyo tertawa, kuat sekali. Berbalik arti dengan usapan lembutnya pada punggung tanganku. "Menurutmu, kau menginjak kebun bunga, Jeng? Begitu takutkah kau waktu menginjaknya?" 

Aku mengangguk. Sesuatu yang indah, bukan untuk disakiti. Orang seindah Sinyo, pastilah suka pada hal indah. Bukan perdu berduri bercampur ilalang. 


"Kalau yang kau injak adalah perdu berduri, apa Diajeng akan beralih?"

Tentu tidak. Tolakku dalam hati. Tak ada sayang saat kau injak perdu berduri, tak bisa disamakan. 

Kemudian Sinyo menarik tanganku kebawah, mengajakku bercangkung di antara ilalang. Gatal tak dapat kuelak, demi Sinyo kulakui. Sempat kurasakan telapak tanganku berbalik, setelahnya Sinyo meletakkan sesuatu di atasnya. "Jangan digenggam terlalu erat, Diajeng bisa terluka karenanya."

Saat telapak tanganku menutup, perlahan, masih berawal baik. Hanya terasa sebuah daun kecil terselip di antara jemari, batang kayu berserat kecil, banyak, bercabang-cabang juga terselip aroma rerumputan. Sinyo tak bersuara, tak jua menghalangi. Baru saat kulempar tiba-tiba, kudengar kekehan Sinyo begitu lantang. Denyutan di telapak tanganku terasa bersahutan. 

"Sungguh mengagumkan, bukan? Diajeng baru saja merasakannya." 

Telapak tanganku di angkat, Sinyo mengusapnya dengan amat lembut. Membuat rasa sakitnya membaur di antara hangat telapak tangan Sinyo. Hilang, begitu saja. 

"Kalau Diajeng pikir hanya bunga yang mampu dikagumi, perdu berduri akan dibuat iri", jelasnya. 

Perdu berduri, dia bilang? Sinyo kagum pada sesuatu yang tak seindah dirinya? Apa bisa aku percaya? 

"Diinjak pun, perdu tak bermaksud menyakiti, hanya membela diri. Tak peduli apapun, bisa terus hidup. Dibandingkan bunga, aku ingin Diajeng tumbuh seperti itu." 

Usapan hangat Sinyo beralih di rambutku, lembut sekali. Kalau bukan ladang perdu, mungkin aku mampu terlelap hanya bertumpu pundaknya. 

"Kuat, namun bersamaan Diajeng juga rapuh seperti seharusnya", tambahnya. 

"Aku tak perlu jadi perdu karena Sinyo, ada, dan akan terus menjagaku", jawabku padanya. Namun, tak lagi kudapatkan suara Sinyo menyambut. Ku harap Sinyo masih berkenan.

Yang ada hanya suara Seraja, peranakan China-Jawa. Anak baba Huang, pemilik toko kelontong. Muncul tiba-tiba di antara aku dan Sinyo adalah kegemarannya. Tak pernah aku tau seperti apa rupanya, dia tak pernah mau disentuh untuk melihat bagaimana pelik wajahnya. Kupikir dia takut bersaing dengan Sinyo. Suaranya indah kuakui, namun terlampau nyaring sekali. Sampai burung pipit di atas pohon randu pun mengepak terbang kesana kemari. 

"Har! Ndar! Sedang apa kalian berjongkok di belakang ilalang!? Mau kupanggil kan Pak modin sekalian? Cepat kemari! Tak rela aku kalau kalian berdua dikawinkan!", ujarnya bersungut-sungut dari depan gerbang.

Seraja selalu tau, bagaimana cara mengakhiri momen ku bersama Sinyo. Tapi aku bersyukur, karena tanpa sadar, Seraja yang menjagaku saat di suatu waktu tiba-tiba Sinyo menghilang. Hari, si Matahari di duniaku yang tak pernah mengenal terang, meninggalkan senja untuk dikenang sekaligus jadi penenang, Seraja Huang.(*)



Cerpen ditulis oleh:

Pramatya Sukarno Putri, perempuan nusantara kelahiran Kudus Juni 2001. Sekarang mengabdi untuk sebuah organisasi pengampu Purna Paskibraka. Penghayal akut yang menggemari buku-buku fiksi. Aktif menulis, namun masih berusaha menunjukkan karyanya pada dunia.


Jumat, 22 Januari 2021

Melampiaskan Emosi Melalui sebuah Tulisan

 


PMII Rayon Ki Hadjar Dewantara (KHD) sukses menyelenggarakan kegiatan yang bertajuk KHD Talk . Tema yang diambil adalah "Teruslah Menulis Sampai Kau Paham Arti Menulis"  . Kegiatan tersebut berhasil menarik perhatian para mahasiswa, bahkan di luar kader KHD sendiri. Sebanyak 12 peserta sangat antusias mengikuti kegiatan yang bertempat di sekertariat baru PMII Komisariat Sunan Muria,  (22/1).

"Seperti saya, tujuan saya menulis adalah untuk melampiaskan emosi yang saya rasakan. Oleh karena itu setiap saya merasakan sakit hati ataupun sedang bahagia, saya selalu menulis," ungkap Sahabati Amanda, Peserta dari Rayon KHD.

Amanda mengungkapkan, selain sebagai wadah ia berharap anggota mampu mengembangkan sendiri kemampuannya. Sehingga harapanya bisa membuka mata para generasi muda agar tidak malas menulis dan mengerti tujuan untuk menulis itu sendiri.

Acara KHD Talk tersebut menghadirkan bintang tamu dari Lentera PMII sunan muria. Sahabat Didik sebagai domisioner Ketua UKM Jurnalistik Pena Kampus periode 2019/2020 dan Sahabat Luqman sebagai Ketua Rayon KHD periode 2017/2018 .Keduanya merupakan tim redaksi dari Lentera PMII Sunan Muria.

Pada pertengahan acara, pengurus rayon Ki Hajar Dewantara  berhasil memberikan kejutan yang tak terduga kepada Sahabati Endang yang pada hari itu sedang berulang tahun. Endang berhasil mendapat prank dari pengurus dan peserta. Endang terharu hingga  pada akhirnya dia mengucapkan terima kasih kepada seluruh elemen yang terlibat.

Setelah kegiatan tersebut berakhir akan ada tindak lanjut dari pengurus. Rencananya akan diadakan follow up dari acara tersebut. Follow up berisi tentang praktek dan membuat karya dalam bentuk tulisan akan dilaksanakan setiap minggu. Contohnya bisa berupa cerpen, berita, artikel sampai opini.  

Tulisan yang dibuat akan direvisi langsung dari kedua pemateri tersebut. Setelah itu diharapkan tulisan dari mereka bisa di upload di blog Lentera PMII komisariat sunan muria, maupun di portal elektronik lainya. (Sya/Dik/Lentera)

Kamis, 21 Januari 2021

RTAR PERTAMA RAYON HUKUM DAN PSIKOLOGI

Foto: Mandataris terpilih Rayon Hukum dan Psikologi, Sahabati Fina Ulya Hidayati

Setelah lebih dari satu tahun sejak melakukan deklarasi, PMII Rayon Hukum dan Psikologi akhirnya melakukan RTAR yang pertama. Kegiatan tersebut berlangsung di Nashrul Ummah (14/1).

Dengan melihat situasi pandemi Covid-19 yang masih merebak, kegiatan dilakukan dengan menerapkan protokol kesehatan. Terlebih melihat pemberlakuan PPKM oleh pemerintah daerah, terhitung dari s.d. 25 Januari 2021.

Merupakam sebuah kemajuan besar bagi PMII Komisariat Sunan Muria, khususnya Rayon Hukum dan Psikologi. Pasalnya perjuangan untuk mencapai titik ini amatlah panjang. Terhitung sejak pendeklarasian Rayon sejak Juli 2019. 

Perekrutan anggota dan pengembangan kader terus digencarkan pada tiap periode. Namun, progres menjunjukkan tidak kunjung signifikan. Pada progres yang sedikit demi sedikit itulah, kini Rayon Hukum dan Psikologi sedikit lagi menjadi bagian dari PMII Komisariat Sunan Muria.
 
Sampai saat ini, jumlah kader dan anggota sebanyak 24 orang. Langkah selanjutnya yang harus dilakukan oleh mandataris terpilih adalah membentuk pengurus yang solid dan siap menghadapi tantangan kedepan. 

Segera seterlah terpilih, mandataris telah menentukan anggota pengurus. Hal ini telah mendapat persetujuan tim formatur, bahkan telah mendapat teken dari pengurus cabang dengan turunnya SK kepengurusan. 

Kini di bawah kepempinan baru Rayon Hukum dan Psikologi memiliki pekerjaan rumah yang banyak. Melakukan kaderisasi terhadap anggota hingga menjadi kader yang militan. Mewujudkan misi yang telah susun dengan baik agar mampu menjadi Rayon yang progresif dan prestisius. (Eka/Lentera)

Rabu, 20 Januari 2021

KOMPROMI KEDUA SISI

 

Ilustrasi Foto: Google
Sumber: https://id.pinterest.com/pin/846465692447010684/

Sekarang ini, kalau aku ditanya apa yang paling berharga dalam hidupku, dengan tidak ragu-ragu aku akan menjawab pengalaman. Tentu saja yang dimaksud pengalaman bukan hanya perihal liburan ke tempat yang lagi hits (Lagi trend atau banyak diketahui masyarakat umum) bersama teman-teman, dapat hadiah dari sang pacar, memenangkan undian give away, atau hal menyenangkan lainnya.

 

Hidup akan terus menerus berjalan. Di manapun, kapanpun, dan bagaimanapun memang memerlukan dua sisi yang saling berimbang. Dua sisi yang akhirnya saling mengisi untuk menguatkan hati.  Kalau kau tak ingin kecewa akan hidupmu sendiri atau kau menganggap bahwa dalam hidup butuh kebahagiaan, maka genggamlah apa yang kamu punya sekarang, jangan bandingkan dirimu dengan yang lain karena kamu benar-benar sempurna dengan dirimu yang apa adanya, dan tetaplah memandang semua hal dari dua sisi yang berbeda.

Jika kamu masih memandang seseorang yang lulus kuliahnya lama disebabkan suatu kemalasan, kebodohan, atau tidak punya prinsip, fiks kamu masih dungu memaknai perjalan hidup orang tersbut. Itulah alasan mengapa hatimu masih saja mengutuk pengalaman kelam pribadi yang telah kau buat sendiri.  Padahal, setiap orang memiliki tujuan hidupnya masing-masing. Tentu antara satu dengan yang lain berbeda.

Pernahkah kamu berfikir darimana sebuah makna ketenangan? Bukankah makna ketenangan dapat ditemukan melalui kepanikan? Makna kerinduan dapat ditemukan melalui kehilangan. Makna kedamaian dapat ditemukan melalui kemarahan. Makna kasih sayang dapat ditemukan melalui kebencian, dan makna penyesalan dapat ditemukan setelah keegoisan.

Lalu, apa lagi yang perlu disesalkan dengan adanya pengalaman yang kelam? Ya, begitulah manusia. Terkadang sering lupa bahwa menuju pendewasaan harus siap melalui proses di luar dugaan.

Kita lebih sering berfikir seandainya daripada kelanjutannya. Seandainya aku begini mungkin sekarang aku akan begitu. Jika seandainya aku tidak begitu, mungkin akhirnya tidak akan begini. Jika seandainya aku, jika seandainya, jika, dan  jika. Hingga akhirnya andai-andai itu membuat manusia lupa bahwa alur hidup dan pengalaman adalah guru yang paling berharga sebagai sarana memperbaiki diri. 

Tidak ada pengalaman menyedihkan yang sia-sia. Tidak ada penyesalan yang tidak berguna. Tidak ada kekecewaan yang tidak bermakna. Semua memang sudah berjalan sesuai alur-Nya. Ya, Tuhan memang selucu ini untuk memberi kejutan. Dimulai dari ketidaknyamanan, kegelisahan, kepanikan, dan kesedihan, perlahan sinar kebahagiaan akan menyambut hati dengan pasti. So, sambutlah sinar kebahagiaan itu dengan terus bergerak melakukan pergerakan hingga akhirnya mampu menggerakkan hati untuk menumbuhkan kualitas diri.(*)

 

Artikel ditulis oleh:

Intan Lutviana Wulandari, seorang perempuan asal Kota Jati kelahiran 30 Agustus 2001. Baginya hidup itu proses penyembuhan dan organisasi adalah sarana pemulihan.


Selasa, 19 Januari 2021

IMAM DAN ADHA, BERKARNYA MELALUI NADA

Foto: Achmad Shokhibul Imam dan Robi’atul ‘Adawiyyah, dua sosok dibalik terciptanya lagu Mars KHD


Lirik lagu Mars KHD:


Demi kejayaan Indonesia, 

Kami PMIl Ki Hadjar Dewantara 

Komisariat Sunan Muria 


Ing ngarso sung tulodho 

Ing madyo mangun karso 

Tut wuri handayani, motto kita 


Salam Pergerakan adalah salam kta 

Tangan terkepal dan maju ke muka

Selalu mengayomi dan siap mengabdi 

Demi kejayaan Indonesia 


Bukan sekadar mimpi 

Mari tunjukkan aksi 

Demi tanah air kita tercinta 


Pewaris peradaban 

Pemimpin di masa depan 

Agen dari sebuah perubahan 


Salam Pergerakan adalah salam kita 

Tangan terkepal dan maju ke muka 

Bergandengan tangan mari kita bergerak 

Demi kejayaan Indonesia

Demi kejayaan Indonesia



Satu pencapaian menarik dilakukan oleh Kader Rayon KHD. Imam dan Adha, berhasil menciptakan sebuah lagu yang didedikasikan untuk PMII Rayon KHD. 


Keberhasilan tersebut juga tidak luput dari bantuan dan dukungan sahabat sahabati yang lain. Bersamaan dengan kegiatan kelas desain dan videografi, lagu berjudul Mars KHD tersebut diluncurkan (17/1). 


Lagu tersebut sebenarnya sudah lama dibuat. Namun, Imam kurang percaya diri dengan lirik yang ada. Berkat motivasi Sahabat Dika, Ketua PMII Rayon KHD, beserta Sahabati Adha, dan teman-teman lain lagu tersebut berhasil dibuat. 


Lagu tersebut dibuat berdasar latar belakang nama besar Ki Hadjar Dewantara yang menjadi identitas Rayon. Dari sana, Imam melihat visi Ki Hajar "Ing ngarso sung tulodho" sebagai harapan besar, yang kemudian memasukkannya ke dalam lirik lagu. 


Selain itu, unsur pendidikan yang begitu melekat mengharuskan sahabat sahabati PMII Rayon KHD untuk berjuang dalam bidang pendidikan. Entah pada nantinya menjadi pendidik atau yang lainnya. Hal itu harus diwujudkan dengan aksi nyata berbakti untuk negeri. 


Imam juga mengungkapkan, tidak menutup kemungkinan bagi pihak selain internal PMII. Dengan kata lain mengajak seluruh pihak untuk berjuang bersama dan saling membantu. Pasalnya, dengan begitu  mimpi yang dicita-citakan dalam pendidikan akan lebih mudah diwujudkan, selama pihak tersebut memiliki prinsip-prinsip yang sama dan tidak bertentangan.


Senada dengan Imam, Adha mengungkapkan bahwa PMII merupakan organisasi pergerakan Mahasiswa yang akan dapat bergerak bila seluruh anggotanya bergandeng tangan. Saling mendukung satu sama lain, serta sama rasa. 


Mahasiswa merupakan kaum intelektual, oleh karena itu mereka harus mampu membangun bangsanya dengan melakukan aksi nyata. Tidak hanya sekedar pandai berkomentar namun tidak berani beraksi. Mereka adalah penerus bangsa yang nantinya akan menjadi pemimpin. 


Video pembawaan lagu dalam acara launching bisa disaksikan melalui Link:

https://www.instagram.com/tv/CKIvJGhAZHg/?igshid=rsqe4z438pir 


(Eka/Lentera) 


Senin, 18 Januari 2021

KELAS DESAIN DAN VIDEOGRAFI RAYON KHD

Foto: Peserta kelas desain dan videografi yang diselenggarakan oleh PMII Rayon KHD

PMII Rayon Ki Hadjar Dewantara (KHD) sukses menyelenggarakan kegiatan kelas desain dan videografi. Kegiatan tersebut berhasil menarik minat anggota baru Rayon KHD. Sebanyak 24 anggota dan 15 pengurus sangat antusias mengikuti kegiatan yang bertempat di rumah Sahabat Dika tersebut, (17/1).


"Kegiatan ini merupakan program Pengurus Rayon, sebagai wadah bagi anggota yang ingin mengembangkan skill di bidang grafis dan edit video," ungkap Sahabat Dika, ketua Rayon KHD. 


Dika mengungkapkan, selain sebagai wadah ia berharap anggota mampu mengembangkan sendiri kemampuannya. Sehingga nanti ketika mereka telah menjadi pengurus kemampuannya terasah dengan baik. Mereka juga tidak lagi kesulitan untuk menularkannya kepada anggota baru yang akan datang.


Kelas desain dan videografi tersebut menghadirkan pemateri dari pengurus internal. Sahabat Dika sebagai pemateri videografi dan Sahabat Firnanda sebagai pemateri desain.


Pada akhir acara, peserta diajak untuk langsung mempraktekkan materi yang didapat. Hunting video dan langsung mengeditnya. Dalam sesi itu, diberikan beberapa tema, di antaranya Bangga Ber-PMII, Berita, dan Review Acara. 


Setelah kegiatan tersebut berakhir, pengurus tidak mau peserta melupakannya begitu saja. Rencananya akan diadakan follow up dari kegiatan tersebut. 


Follow up akan dilaksanakan setiap minggu. Kegiatannya berisi tentang pendalaman materi yang telah didapatkan. Contohnya pada materi desain, membuat kutipan dari kata-kata tokoh terkenal dan menjadikannya sebuah poster. Atau membuat poster tentang ucapan selamat ketika ada hari besar. (Eka/Lentera)




Kamis, 14 Januari 2021

ORGANISASI, DEDIKASI ATAU PANSOS?


Ilustrasi Foto: Radiosuarakudus.com


Sebuah organisasi dikatakan prestisius jika mampu menghasilkan kader yang berkualitas, tanpa terkecuali di tingkat mahasiswa. Pada saat ini banyak di antara ormawa membabi buta dalam mengkader mahasiswa anggotanya. 

Kita bisa melihat di BEM, DPM, sampai UKM. Mereka  gencar menyusun strategi dan trik yang jitu untuk melakukan pengkaderan. Seakan berlomba membuktikan diri jadi ormawa utama di kampus. 

Padahal tanpa disadari, tujuan dari ormawa adalah membuka pandangan mahasiswa agar memiliki pikiran terbuka. Tidak lagi mementingkan diri sendiri. Tidak lupa sebagai tempat berproses dan bukan tempat untuk menaruh nama. 

Banyak mahasiswa sekarang ingin terkenal. Bagaimanapun caranya mereka ingin selalu muncul di permukaan. Tidak usah jauh-jauh, fenomena ini bisa dilihat di kampus kita tercinta. 

Banyak mahasiswa yang mengesampingkan kinerja hanya untuk update story. Bukan lagi karena mementingkan prestasi, tapi lebih merujuk pada aji mumpung di organisasi. Banyak dikenal orang juga banyak teman untuk ngopi.

Inikah tujuan berorganisasi? Pansos di mana- mana? Sok berkuasa di sekitar mahasiswa biasa? Bicara tinggi untuk menunjukkan bahwa dia layak jadi bagian akademisi? Padahal yang dihadapannya adalah kaum awam yang hanya gabung karena ingin ngopi. 

Dinasti Teman Ngopi

Bagaimanapun juga teman adalah teman. Tidak peduli dia berasal dari mana, kemampuanya seperti apa, dan latar belakangnya bagaimana. Hubungan pertemanan itu bernilai karena jasa mereka dalam mencapai tujuan bersama.

Dalam sebuah organisasi, nepotisme sudah menjadi rahasia umum. Karena hal kedekatan rasa, dimasukkanlah mereka. Malam hari saat waktu ngopi mereka berunding untuk siapa saja yang akan masuk dalam anggota. 

Tanpa melibatkan pengurus yang lama, justru  wajah baru yang sering kumpul untuk ngopi bersama adalah yang dipilih menjadi anggota. 

Sebuah kebodohan dan egoisme yang fatal. Mementingkan kepentingan kelompok demi membabi buta kelompok yang lain. Pemimpin bukanlah budak daripada anggota. Tapi dia adalah penyambung lidah para anggotanya.(*)


Artikel ditulis oleh:

Dull Ndon, seorang yang sedang bingung, pesimis, dan juga ragu, tapi pantang baginya untuk mundur ketika berhadapan dengan tantangan. Merupakan kader PMII Rayon Ki Hadjar Dewantara.





Rabu, 13 Januari 2021

WAJAH BARU ATAU WAJAH BURAM PENDIDIKAN NEGERI INI?

 


Foto: Istimewa

Akhir tahun 2019 kita diberikan harapan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang baru, Nadiem Makarim. Sebuah gagasan yang menurut saya akan menjadi awal dari majunya pendidikan di Negara kita. Konsep merdeka belajar yang di gagas oleh Mas Menteri (sapaan akrab Nadiem) sebagai harapan baru dalam dunia pendidikan kita.

Di dalam dunia perkuliahan, Mas Menteri juga memberikan gebrakan baru dengan gagasanya yang di rangkum  dalam kampus merdeka. Mungkin banyak perspektif dalam mengartikan arti merdeka ini. Beragam opini turut muncul dan berkembang di dalam dunia perkuliahan sendiri.

Akan tetapi ada satu hal yang tidak bisa dipungkiri. Sistem pendidikan di kampus yang diterapkan di negeri ini merupakan sistem pendidikan doktrinasi. Mahasiswa diberikan pemahaman untuk diterima seutuhnya, bukan untuk dikaji dan mencari kebenaran akan hal itu.

Dengan sistem pendidikan seperti itu, maka tidak bisa di pungkiri bahwa pemikiran-pemikiran kritis yang harusnya dimiliki oleh mahasiswa kini secara perlahan diberi racun yang mematikan. Tujuannya tidak lain agar pemikiran-pemikiran kritis mahasiswa mati secara perlahan.

Mungkin banyak teman-teman mahasiswa yang kurang menyadari problematika tersebut. Seharusnya di dalam dunia perkulihan, antara dosen dan mahasiswa layaknya teman yang saling melempar gagasan guna menambah wawasan, utamanya dari mahasiswa itu sendiri. Akan tetapi selama saya berkuliah saya merasa kembali ke bangku sekolah, dimana kita seakan dipaksa menjadi pendengar yang baik dalam perkuliahan.

Selain itu, ruang-ruang proses perkuliahan yang seharusnya kita bisa explore guna menujang pemikiran-pemikiran kritis, kini seakan dikubur sedikit demi sedikit. Pemuda bergelar mahasiswa dulunya dianggap orang yang mempunyai intelektual tinggi , daya nalar krititis yang luar biasa, dan gerakan secara massif. Namun kiranya kurang pantas jika gelar tersebut masih diberikan kepada pemuda generasi sekarang.

Maka dari itu, jangan salahkan jika mahasiswa yang dulunya dikenal dengan julukan agent of change, agent of control maupun iron stock, kini hilang semua tanpa membekas. Hal tersebut berkaitan dengan sistem dari hulu sampai hilir yang tidak pernah berpihak kepada nalar kritis mahasiswa. Ditambah pula dengan karakter mahasiswa di era sekarang yang kuliah hanya untuk mendapatkan gelar kehormatan. Sama seperti orang-orang yang dianggap penting di ngeri ini, mereka beranggapan dengan gelar yang mereka peroleh bisa menunjang kehidupanya di kemudian waktu.

Jangan salah jika marwah mahasiswa di era sekarang dipertanyakan. Apakah marwah sebagai mahasiswa yang dulu di agungkan kini masih ada? Mahasiswa yang duluya berdiskusi dan baca buku merupakan kebutuhan wajib, kini sudah disibukkan dengan berbagai sosial media yang dituntut selalu eksis di dalamnya.

Jika banyak pepatah yang bilang kemajuan bangsa ini ditentukan para pemuda, maka kehancuran bangsa ini juga ditentukan para pemudanya.(*)


Artikel ditulis oleh:

Sholikin Muhammad, kader PMII Komisariat Sunan Muria. Di tengah hobinya yang tidak menentu, memilih menyibukkan diri dengan ngopi. Menjunjung motto hidup "Budayakan membahas apapun itu, walaupun hanya dalam pemikiran". 

 

 

 

Rabu, 22 Juli 2020

Lakukan Survei BIRKOM RAYTEK Jaring Aspirasi Kader PMII

Biro Kominfo (BIRKOM) Rayon Teknik (RAYTEK) Komisariat Sunan Muria (KOMSUMU) lakukan survei, bertujuan menjaring aspirasi kader PMII di wilayah KOMSUMU.
Survei yang dilakukan Manarul Hidayat kordinator Biro Kominfo melalui Google Formulir, mencakup dua kriteria, aspirasi dan harapan. ini merupakan tindak lanjut ditundanya Musyawarah Pimpinan Cabang (MUSPIMCAB) yang dilaksanakan Pengurus Cabang (PC PMII) Kudus, (Rifal/Lentera)


CEK HASIL SURVEI 

Senin, 20 Juli 2020

MUSPIMCAB PC PMII Kudus Ditunda

Foto: Peserta sidang dari Komisariat Sunan Muria Mengajukan Pendapat/M. Faizi

Musyawarah Pimpinan Cabang (Muspimcab) yang dilaksanakan Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) Kudus memanas. Aksi walk out pun tak terhindar. Acara yang dijadwalkan selama dua hari, Sabtu dan Minggu (18-19/7) di Aula PCNU Kudus tersebut akhirnya ditunda.


Peserta dalam sesi sidang meminta kepada forum agar dalam kegiatan tersebut menghasilkan beberapa produk hukum yang akan menjadi acuan dalam pelaksanan program kerja organisasi PMII Kudus. Akan tetapi pimpinan sidang tidak mengabulkan permintaan dari sebagian besar peserta sidang.



"Hasil yang harus dicapai Muspimcab sesuai Pedoman Organisasi itu seperti apa?" tanya Haris selaku Ketua Komisariat Sunan Muria.



Alih-alih memberikan jawaban, pimpinan sidang justru membatasi pendapat-pendapat yang disampaikan peserta. Pimpinan sidang tidak memperbolehkan adanya sanggahan dari peserta sidang.



"Jika ada yang tidak terima silahkan keluar," seru Mujahidin selaku pimpinan sidang, dengan nada tinggi.



Sesi sidang yang sebelumnya telah terjadi adu argumen yang sengit, baik dari Komisariat Sunan Muria dan Komisariat Sunan Kudus semakin tidak kondusif. Beberapa peserta akhirnya memutuskan untuk meninggalkan forum karena kecewa atas ucapan pimpinan sidang yang seolah mengusir peserta sidang saat musyawarah berlangsung.



Sebenarnya pimpinan sidang khawatir, karena kegiatan terkendala penerapan jam malam. Ia menginginkan sidang selesai tepat sesuai jam yang di tentukan oleh gugus tugas percepatan penanganan Covid-19 yakni berakhir jam 21.00 WIB. Tetapi karena terbawa situasi yang sudah tidak kondusif, keluarlah keputusan yang tidak dapat diterima oleh sebagian besar peserta sidang.



"Rencana pelaksanaan kemungkinan dilaksanakan pada hari Sabtu, itu juga menunggu perizinan dari satgas percepatan penanganan Covid-19," ungkap Gatot selaku panitia acara.



Lanjutan Muspimcab PC PMII Kudus diagendakan kembali pada 25 Juli, dengan harapan adanya keputusan sidang yang dapat menjadi wadah serta landasan bagi seluruh kader di bawah naungan PC PMII Kudus. (Rifal/Lentera)

Jumat, 10 April 2020

Takut dengan Corona atau Takut dengan Kematian?

Foto: Istimewa

Virus Corona berasal dari Wuhan, China, Virus ini mulai di ketahui sejak desember tahun 2019. Penyebarannya begitu cepat dari orang perorang, sehingga sangatlah mengerikan dan mematikan. karena begitu parahnya  yang terkena virus ini, maka banyak orang yang merasa ketakutan. Sudah banyak negara yang mengonfirmasi tentang warganya atau salah satu warganya yang terkena virus corona ini.

China sendiri melakukan lockdown di negaranya agar virus ini tidak dapat menyebar secara meluas ke kotanya atau kenegara lainnya. Pada saat seperti ini  maka banyak negara yang ingin melakukan lockdown di negaranya. Beberapa negara yang juga sudah melakukan lockdown yaitu Italia, Malaysia, Amerika, Singapura.

                Indonesia pada saat ini sudah mengkonfirmasi tentang adanya infeksi virus corona yang berjumlah lebih dari tiga ribu kasus yang telah menyebar di seluruh wilayah indonesia. Pemerintah sendiri juga sudah mengupayakan agar dapat memutus rantai peneluran virus corona. melalui social distancing, physical distancing dan melakukan berabagai penyemprotan disinfektan di berbagai wilayah Iindonesia. Di Jakarta sendiri sudah malakukan social distancing berskala besar. Berbagai wilyah atau kota sudah memberlakukan lockdown untuk mengantisipasi penyebaran virus corona. Pemerintah juga berada di dalam dilema yang sangat besar, karena pada dasarnya pemerintah masih mempertimbangkan memberlakukan lockdown atau masih tetap berlanjut sesuai instruksi awal. Jika Indonesia melakukan lockdown maka perekonomian Indonesia yang sedang berkembang akan merosot ke bawah dan mengalami kerugian yang sangat besar.

                Banyak yang sudah meninggal karena virus corona ini dan yang sangat memprihatinkan adalah setiap harinya selalu bertambah. Padahal pemerintah sendiri juga sudah mengupayakan agar virus ini dapat berhenti dan kembali normal. Entah apa yang menjadikan virus ini begitu mematikan dan sangat berbahaya. Masyarakat indonesia begitu ketakutan dalam menghadapi virus ini. Tapi bagi diri saya sendiri virus corona bukanlah malaikat yang setiap detiknya dapat mencabut nyawa seseorang. Dan yang membuat saya sedih adalah kenapa manusia tidak pernah berfikir dan belajar dari adanya virus yang lebih dikenal dengan covid-19 ini. Tuhan sudah mengatur tanggal kematian kita tapi kenapa kita tidak pernah mau berfikir Tuhan lah yang tahu kematian manusia. Bukannya saya mau berlagak sok suci atau bagaimana. Saya belajar begitu banyak hal dari covid-19 ini.

Kemarin saya melihat di tv banyak masyarakat yang menolak dimakamkannya korban virus corana. Tapi kenapa masyarakat begitu buta tentang ini apakah mereka takut dengan virus ini atau mereka takut dengan kematian yang akan menjemput mereka. Kita tidak akan pernah tahu virus ini akan menyebar ke siapa atau akan mematikan siapa yang kita tahu hanya kabar bahwa virus ini sudah menyerang dan mematikan. Maka dari itu juga kita juga harus lebih banyak berserah diri kepada Tuhan dan lebih banyak memohon ampunan kepada Tuhan kita yang sedang terjadi di dunia khususnya di negara ini juga.

Saya membayangkan bahwa jika yang terkena itu adalah anggota keluarga saya bagaimana perasaaan saya? Bagaimana perasaan mereka yang manusia yang juga punya keluarga? Bagaimana jika itu anggota keluarga mereka? Sungguh pada saat momen ini saya sangat sedih sekali, karena pada saat saya melihat di tv, pas dimakamkan saja anggota keluarganya tidak boleh mendekat, tidak boleh melihat wajah atau melihat seseorang anggota keluarganya dikuburkan di mana. Maka dari itu saya mengajak bersama teman teman saya yang sedang berkuliah agar mau belajar tentang arti kematian yang sesungguhnya, dan kepedulian yang sebenarnya, arti sosial yang sebenarnya. 

Tidak hanya mahasiswa saja, seluruh elemen pun semua harus juga belajar denga adanya covid-19 ini. Marilah kita jangan memetingkankan ego kita. Cukup untuk semua itu, kita tidak usah terlalu mengkritik tentang pemerintah. Pemerintah saja kebingungan mengurusi ini. Yang kita harus lakukan adalah jika kita tidak bisa berbuat lebih sebaiknya kita mengkuti arahan dari pemerintah dan mau menerima jenazah korban covid-19. Tapi klo bisa berbuat lebih maka donasikanlah sesuatu yang berguna bagi masyarakat atau petugas medis yang sedang melawan virus corona. Stop untuk tidak menyebar berita2 hoaks lainya. Berikan kata semangat untuk mereka yang sedang terkena atau melawan virus (DK




Senin, 06 April 2020

SOEKARNO DAN MARXISME


Foto: Istimewa

Sebuah catatan terbesar bagi negeri ini memiliki tokoh hebat dan bijaksana terhadap rakyatnya. Sosok itu ialah Bung Karno, bapak proklamator RI. Memasuki masa dewasanya Bung Karno menghabiskan waktunya dengan buku-buku. Ia mengenal marxisme sejak berusia 17 tahun. Pada saat itu beliau di jejali oleh sang gurunya yaitu HOS. Tjokro Aminoto dengan bacaan-bacaan kiri.

Salah satu ciri khas yang menjadi pembeda antara Bung Karno dengan politisi saat ini adalah penguasaanya dalam teori-teori politik. Ia bukan seorang politisi karbitan atau  dari politisi keturunan. Ia juga bukan politisi ngawur-awuran, yang landasan tindakannya tidak didasarkan sebuah panduan yang jernih dan solid. Sebaliknya, seluruh  landasan tindakan politik dari Bung Karno merupakan refleksi atas kondisi sosial pada masanya, dan semua itu di tuangkan dalam catatan-catatannya dan dalam pidatonya yang menggebu-gebu. Salah satu yang mempengaruhi sumber pemikiran realitas Bung Karno dengan lebih mendalam dan utuh yakni marxisme.

Hal tersebut diakuinya sendiri pada sebuah koran pada tahun 1941, ia menyampaikan bahwa “teori marxisme adalah teori-teori yang saya anggap kompeten dalam memecahkan permasalahan kelas-kelas politik, dan kelas-kelas kemasyarakatan”. Jadi Bung Karno adalah seseosok manusia pergerakan dengan bersenjata marxisme.

Bagi saya sendiri berpendapat, hal tersebut tidak berlebihan bahwa marxisme telah berjasa besar di kehidupan Bung Karno ini. Sebab, dengan adanya marxisme yang tumbuh di dalam kehidupan Bung Karno, ia menjadi tidak rasis dengan kolonialisme, sebagai utaraan ekspresi berkulit putih. Dia sadar bahwa adanya kolonialisme adalah konsekuensi dari adanya kapitalisme yang membutuhkan sumber bahan baku, menghabiskan tatanan negeri, tenaga kerja murah, penjualan di pasar menjadi mahal, dan mengakomodasi lahan baru sebagai prasyarat keberlanjutan dari prose akumulasi sistem kapital.

Tidak lepas dari Bung Karno adalah sesosok yang memeluk nasionalisme sebelum jauh-jauh dari chauvuinisme dan fasisme. Karena Bung Karno bercampur dengan nasionalisme, ia memiliki jiwa sangat progresif. Bisa dikatakan, ia adalah nasionalisme kiri, karena selalu mengedepankan cita-cita kesejahteraan masyarakat dan kelas proletar sebagai tujuan utamanya.

Pada tahun 1958 Bung Karno mencetuskan kolaborasi yang memunculkan sebuah pemikiran marxis namun ala-ala indonesia yakni Marhaenisme. Marhaenisme itu sendiri diambil dari nama petani di daerah bandung, Bung Karno menemukan Marhaenisme pada saat melakukan riset di bandung selatan pada tahun 1921. Bung Karno menyebutkan bahwa marhaenisme sebagai marxisme yang dapat di berlakukan, dan di cocokan di indonesia.

Tentu saja yang menjadi pertanyaan apakah ada kaitannya yang dicocokkan antara marxisme dengan keadaan indonesia? Sebagai seorang pemarxis, Bung Karno menganalisa dengan memakai kelas sosial. Menurut bacaan Bung Karno, selalu ada kelas sosial yang memainkan tugas sejarah untuk mengubah relasi produksi agar sejalan dengan tenaga-tenaga pekerja produktif. Kalo di eropa tugas sejarah yakni proletar. Namun masyarakat indonesia berbeda, kendati masyarakat proletarnya sudah ada, seperti para pekerja di pertambangan. Tetapi komoditas jumlahnya masih kecil, masyarakat indonesia lebih dominan para pemilik produksi kecil, perdagangan kecil, pertanian keci, dan usaha kecil. Kehidupan mereka sangat sengsara dan bisa dikatakan sebagai masyarakat tertindas.

Sejalan dengan keadan tertindas itu, proletar berbeda dengan marhaen, proletar adalah terminologi yang dikembangkan oleh marx untuk menjelaskan perkembangan kapitalisme di Eropa. Sedangkan marhaen mereka yang memiliki alat produksi kecil, yang tidak menyewa, di kerjakan oleh keluarganya, dan hasil upah produksinya untuk menghidupi kehidupan keluarganya.

Cita-cita marhaenisme itu sendiri memperkuat dan mendorong para buruh dan kaum miskin lainnya, tentunya untuk menggulingkan sistem kapitalisme dan imperialisme, sebabnya sistem kedua tersebut telah menindas rakyat jelata. Pada tanggal 17 agustus 1946 dalam pidatonya Bung Karno menyatakan bahwa Revolusi Indonesia yang bergejolak pada tahun 1945 bermuara pada Sosialisme Indonesia. Esensi dari Sosialisme itu sendiri adalah kesejahteraan sosial dan kemakmuran bagi setiap orang. Sebagai prasyarat, harus ada kepemilikan pabrik yang kolektif, harus ada industrialistik yang kolektif, ada produksi yang kolektif, dan harus ada distributif yang kolektif.

Selain itu Bung Karno menegaskan bahwasannya “Sosialisme Indonesia sebagai hari depan, revolusi indonesia bukan semata-mata ide ciptaan seseorang (dalam satu malam tidak tidur), juga bukanlah barang yang diimpor dari luar negeri lalu kita bisa menikmati, atau hal paksaan dari masyarakat luar indonesia. Akan tetapi, suatu perlawanan penentangan daripada kaum tertekan. Suatu kesadaran sosial yang ditimbulkan oleh masyarakat indonesia sendiri, dan sebuah suatu keharusan dari sejarah. Dengan demikian, sosialisme menjadi patokan masyarakat indonesia dengan tradisi progresif yang melekat dan mengakar ditubuh masyarakat indonesia yakni gotong royong.

Untuk mewujudkan Sosialisme Indonesia, Bung Karno belajar dari revolusi perancis. Pada masa itu, kaum borjuis menarik kaum proletar dan kaum tani dalam persekutuan dibawah slogan kebebasan, persamaan, dan persaudaraan untuk menumbangkan kekuasaan feodalisme. Begitu kekuasaan feodal tumbang, kaum borjuis membangun kekuasaannya sendiri dengan menyingkirkan kaum proletar dan kaum miskin lainnya. Bung Karno mewanti-wanti betul kejadian revolusi perancis tidak terulang dalam revolusi indonesia. Oleh karenanya, dalam perjungan mendatangkan kemerdekaannya pada tahun 1945, kaum marhaen harus tetap menjaganya supaya tidak kena getahnya, akan tetapi kaum borjuis atau feodal yang memakan buahnya.

Demikian seorang Bung Karno membuat 2 (dua) gagasan terbesarnya yaitu Sosio-Nasionalisme dan Sosio-Demokrasi. Sosio nasionalisme adalah nasionalisme yang berpihak terhadap massa-rakyat. Sosio-nasionalisme menolak kapitalisme dan feodalisme. Sosio-nasionalisme mencita-citakan sebuah masyrakat yang di dalamnya tidak ada penindasan dan eksploitasi oleh suatu kelas terhadap kelas tertentu. Secara harfiah sosio-nasionalisme yang mengkhendaki masyarakat tanpa kelas.

Dalam capaiannya Sosio-nasionalisme menawarkan prinsip beberapa hal. Pertama, Sosio-nasionalisme politik dan Sosio-nasionalisme ekonomi berdikari. Sosio-nasionalisme politik nasional dan berdaulat menjamin penyelenggaraan kekuasaan politik terhadap negara republik indonesia tidak di recoki. Dan Sosio-nasionalisme ekonomi berdikari, memastikan kedaulatan negara terhadap seluruh kekayaan ekonomi sosial. Kedua, Sosio-nasionalisme menempatkan kemerdekaan sebagai jembatan emas untuk mencapai cita-cita masyarakat maupun negara untuk yang lebih tinggi, yakni masyarakat adil dan makmur. Ketiga, mengolaborasikan dalam semangat kebangsaan dan kemanusiaan. Demikian Sosio-nasionalisme mencegah terjadinya nasionalisme yang sempit. Selain itu sosionalime menganggap perjuangan emansipasi nasional tidak terpisahkan dalam perjuangan bangsa-bangsa diseluruh dunia untuk mewujudkan bangsa yang adil dan beradab.

Kemudian dalam sosio-demokrasi, yakni antitesa dari demokrasi parlementer yang dihasilkan oleh revolusi perancis. Sosio-demokrasi juga menyatakan keberpihakan, yakni kepada rakyat marhaen. Secara harfiah, sosio-demokrasi berarti demokrasi masyarakat atau demokrasi massa-rakyat. Karena keberpihakan sosio-demokrasi tersebut menolak kapitalisme dan feodalisme. Yang menjadi pertanyaan apa hubungan sosio-demokrasi dengan cita-cita marhaenisme, yang mewujudkan masyarakat adil dan makmur?

Dalam prinsipnya sosio-demokrasi menawarkan beberapa hal. Pertama, sosio-demokrasi mengidamkan kekuasaan politik ditangan rakyat marhaen. Bentuk konkretnya yakni negara yang berisikan rakyat, seluruh urusan ekonomi di pegang oleh rakyat, dengan rakyat dan untuk rakyat. Kedua, sosio-demokrasi mendorong kepemilikian sosial terhadap alat-alat produksi dan sumber daya ekonomi. Ini adalah sebuah langkah untuk menentukan demokrasi ekonomi, maka dengan di lapangan politik dan budaya menjadi sangat mungkin. Oleh karenanya, ekonomi pangkal dari sumber segala bagi kehidupan politik dan sosial budaya. Ketiga, menyerahkan urusan ekonomi dan politik di tangan rakyat. Sosio-demokrasi menghilangkan pemisahan antar ekonomi dan politk yang lazim digunakan pada sistem kapitalisme. Untuk pemenuhan kebutuhan ekonomi tidak dianggap sebagai individualistik namun menjadi urusan kolektif.

Bung Karno tidak berhenti dalam gagasanya, ia juga menawarkan gagasannya yakni strategi politik. Menurutnya, dalam mewujudkan Sosialisme Indonesia revolusi harus ditempuh menggunakan 2 (dua) fase yakni fase nasional demokratis dan fase sosialis. Dalam nasionalis demokratis kita akan mendirikan negara yang merdeka dan demokratis, sedangkan dalam fase sosialisme kita akan mendirikan sosialisme (gotong royong). Dalam fase nasionalis demokratis kita akan mengakhiri penindasan sosial dan menghancurkan sisa-sisa feodalisme. Tentunya perjuangan kita dalam nasionalis demokratis untuk menghancurkan kolonialisme di lapangan politik, ekonomi, dan sosial budaya.

Dalam fase nasionalis demokratis, untuk menyiapkan syarat-syarat fase selanjutnya yakni revolusi sosialis.  Syarat-syarat tersebut antara lain yakni, mencerdaskan kehidupan bangsa, mendorong demokrasi seluas-luasnya, dan membangun kepribadian mental sebuah bangsa. Dengan demikian, revolusi sosialisme yang mengarah pada perwujudan sosialis indonesia yang tidak ada lagi kapitalisme. Salah satu ciri poin utama dalam sosialisme adalah kepemilikan sosial terhadap alat produksi. Dan seperti yang dikatakan oleh Bung Karno, negara hanya berfungsi sebagai organisasi atau alat, akan tetapi kepemilikan yang sesungguhnya harus ditangan rakyat.

Penulis : Bung Andre, salah satu Kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Ig/Twitter : @dresone